Jumat, 18 Maret 2011

My journey to get there-Living in the city

My journey to get there-Living in the city

 

Aku akan menceritakan bagaimana kisahku dengan kakakku Sterk. Mulai sekarang kami harus tetap hidup walaupun tak bersama keluarga utuh kami. Entah bagaimana nasib kedua orang tuaku yang waktu itu kecelakaan begitu juga kami (dalam cerita sebelumnya)

 

Dari saat kami selamat ; kami dapatselamat karena Sterk menyalakan api yang amat besar waktu itu. Dan kemudian orang-orang datang menolong kami. Selanjutnya, aku dan Sterk dimasukkan ke Panti Asuhan. Namun aku kabur, begitu juga Sterk.

 

Setelah 4 tahun berlalu dari saat kecelakaan itu terjadi, sekarang aku berumur 12 tahun, sedangkan kakakku 16 tahun kini. Kami hidup sendiri, memiliki toko sendiri. Rumah ini awalnya adalah sumbangan untuk kami korban bencana. Dan akhirnya kami pakai untuk membangun rumah karena uangnya cukup besar.

 

Rumah kami akhirnya kami jadikan toko buku dan toko kue. Kami bekerja hanya berdua saja. Aku tidak bersekolah, begitu juga kakakku. Kami hanya belajar dari buku pelajaran yang bisa kami dapatkan. Atau kini banyak sekali buku-buku pelajaran yang dapat kami baca di toko buku kami sendiri. Walaupun aku dan kakakku tidak melanjutkan sekolah, tetapi kami masih amat senang dapat bekerja dan hidup. Toh, kami mandiri dan kami juga bisa belajar sendiri. Tidak perlu membuang uang untukk sekolah, atau nantinya kami malah tak dapatkan makanan untuk makan.

 

Sekarang andai kata orangtuaku masih hidup, mungkin kami tak akan bertemu dengan mereka. Kakak juga sepertinya tak begitu memikirkan masalah itu. Dari kecelakaan tersebut kami sudah tidak pernah mendengar lagi orangtua kami mencari anaknya. Atau berita orang hidup dari kecelakaan itu. Orang-orang dari panti asuhan juga tidak mencari kami lagi. Yah untuk apa juga, kami lari dan kabur juga kemauan kami.

 

“Alleen! Toko buku kosong sekarang?” Panggil kakakku dari seberang. Rumah kami cukup luas, dalam bagian depan rumah kami bagi dua. Sebelah kanan toko kue dan sebelah kirinya toko buku. Tadinya toko buku hanya untuk peminjaman buku, .. namun akhirnya aku punya ide untuk memisahkan tempat. Yang satu tempat peminjaman dan yang satunya toko buku sungguhan =_____= toh nanti kami juga dapatkan lagi.

“Nggak penuh. Tapi ada. Kenapa??” Aku mengintip ke toko kue dari pintu yang terbuka.

Kakkku masuk tiba-tiba.

“Sebelah udah sepi. Tadi ramenya…”

“Ou..” Aku mengambil buku dan membaca. “Gimana? Ideku bagus nggak? Jual makanan kecil buat anak-anak lain di tokomu?” Sebentar-sebentar aku menoleh padanya.

“Ya. Thanks yak. Laku banyak, sekarangpun telah habis. Nggak taunya rakus juga yak” Kakakku nyengir.

Aku memandang kakakku dan tertawa. “Hah, bagus ya niru gaya adeknyaa.!” Aku nyengir. Kemudian tertawa. Ya, yang namanya suka ‘nyengir’ itu gayaku. Ah tapi kan konyol kalau kakakku yang melakukan hal seperti itu. Jelek ah jeleekk. Hahahaa////

“Boleh dong, kakak niru gaya adeknya. Haha”

“Seeplhaa” Aku melanjutkan membaca. Aku suka komik, namun juga suka pelajaran. Aku suka membaca tapi ingatlah aku bukan kutu buku.

Kakku kembali ke toko sebelah karena ada pelanggan. Sterk pintar membuat roti, begitu juga memasak. Kalau dibandingkan aku dia jauh lebih dapat diandalkan. Tapi aku tak akan iri. Karena sekarang tak ada orangtua yang membanding-bandingkan dia dan aku. Dan aku sadar kalau memang aku ini kurang bisa diandalkan kalau dalam hal memasak. Sterk kokinya. Ia dapat membuat roti dan segala makanan yang aku sukai. Entah, tapi kerjaanku hanya membaca, main, menulis, dan tidur. Mungkin yang kkami dapat lakukan bersama adalah kerja banting tulang, fisik. Yang membutuhkan banyak tenaga. Aku suka itu =D

 

Kadang Sterk sering bilang, sikapku seperti anak laki-laki. Yah, mungkin. Tapi aku tak merasa demikian. Omongannya tak kuhiraukan karena mungkin memang benar walaupun aku tak merasa. Pakaianku? Pakaian ‘cewe’ atau ‘cowo’? Dua-duanya. Aku pakai seadanya. Kalau memang saat itu aku dapat pakaian perempuan ya aku pakai.

 

Beginilah hidup kami, kami hidup mandiri dengan kedua toko yang kami punya. Untunglah toko kami dapat laku keras tiap hari kami buka. Apalagi hari Minggu, biasanya anak-anak ataupun orangtua mampir kemari. Untung kami dapat tinggal di kota. Tapi yang sekarang kami tidak miliki adalah kendaraan. Jadi kemanapun kami selalu berjalan kaki.

 

Suatu hari kakakku membaca koran pagi. Tapi ia amat kaget. Ada sesseorang yang ia kenali besertakan nama orang itu. Terpampang jelas di halaman de[an koran. Kasus Narkotika yang kini beredar. Seseorang yang mengedarkan Narkoba ke wilayah-wilayah di negara ini.

 

‘Alleen tak boleh mengetahuinya’ pikir Sterk dan saat ingin menyembunyikan koran itu…

“Loh? Korannya pagi bener >___<” aku langsung merebutnya dari tangan kakakku.

“Alleen nanti dulu!”

“Iya-iya.. kakak lagi baca kan? Biasanya juga aku main ambil” aku mengambil secangkir teh dan meminumnya. “Hmmm…kasus narkoba lagi ya,,” Aku melanjutkan meminum teh. Kakakku geregetan. “BRAH!!!HAH?!! BZZUUURRR!! BEUURRHH!HAH?” Aku melihat foto AYAH !!

 

 

~sorry . . tunggu cerita selajutnya J)

 

2 komentar:

  1. a great story...
    menggambarkan bagaimana kakak beradik mampu berdiri sendiri dan hidup mandiri tanpa orangtua....
    2 thumbs up! ^^

    BalasHapus