Aku tahu siapa itu. Terlihat amat jelas dan aku sangat mengenalinya. Bahkan aku tak percaya dengan apa dan siapa yang aku lihat dalam kertas besar yang kugenggam itu.
"Do not say anything to me. Somehow I do not believe!" Aku benar-benar tidak mempercayai ini. Ayahku adalah orang baik-baik. Pasti yang beredar disini salah. Aku tak mengerti. Bagaimana dengan ibuku? Apakah dia baik-baik saja? Hal yang tak pernah aku pikirkan kembali melanda ku dengan kesedihan.
" Sayangnya itulah yang berada disana " Sterk merangkulku.
Aku tak dapat berkata-kata lagi. Apa yang aku lihat adalah apa yang tak aku percayai. Aku sedih tetapi aku amat bahagia. Dengan begini aku tahu ayah dan ibuku masih hidup meskipun aku dan mereka terpisah jauh. Aku tak tahu perasaan Sterk tetapi aku tak peduli apapun yang ia rasakan kini. Tapi rasanya hatiku tercabik karena mendengar hal yang tak pernah aku bayangkan dan aku yakin ayahku tak akan melakukan hal ini.
Ayahku mengonsumsi Narkotika? Tidak akan. Hal itu tak akan terjadi. Aku yakin ini bukan ayahku. Ayahku adalah orang yang periang yang selalu beribadah. apakah hilangnya kami membawa ia menjadi yang orang sebut 'jahat'? Dan aku tak akan percaya kalau orang bilang itu ayahku. Aku tak mengenalinya.
"Kak! Ini bodoh" Aku menatap kakakku tajam. Sterk hanya mengalihkan pandangan.
" Whatever you say " kakakku mengalihkan pandangan. Ia tak menatapku. aku kesal dan tak akan percaya. Selama aku hidup dengan keluarga dan itu cukup lama , aku tak pernah merasa sekecewa ini kepada orangtuaku. Dan kini bagaimana dengan ibuku? Mungkin kini aku tak dapat bertemu mereka dan aku tak begitu merasa kehilangan. Tapi aku amat merasa kecewa ketika ternyata kedua orangtuaku melakukan hal yang salah. Aku selalu diajari mereka dengan melakukan hal yang benar. Dan aku amat kecewa pada mereka ,, padahal selama ini aku tak pernah kecewa dengan apapun yang mereka buat.
Ini adalah suatu kesalahan terbesar yang aku lihat dan yang aku tahu. Aku tak tahu kesalahan macam apalagi yang mereka lakukan. Mengapa ibuku tak menjaga ayahku? Mengapa dibiarkan begitu saja? Dan mana ayahku yang dulu yang amat ANTI dengan barang yang haram dan hal yang tak benar? Aku rindu mereka yang lama. Aku rindu mereka. Hal yang sleama 4 tahun setelah kecelakaan itu terjadi, yang aku tak pernah memikirkannya kini melukai perasaanku pada mereka; kedua orang tuaku.
" Mungkin aku salah berkata demikian dan membuatmu marah .. Tetapi aku amat kecewa pada ayah .. " Sterk langsung terbaring di sova. Aku menatapnya. Pendapatnya sama denganku namun aku masih tak dapat berkata apapun. " Ya All .. Kenyataannya seperti itu yasudahlah .. Harus terima juga .. Mungkin mereka telah berubah tanpa kita ketahui dan mungkin sekarang kita telah memiliki adik mungil yang manis.. Dan mereka telah menjadi keluarga bahagia. Tapi kalau aku lihat berita barusan aku berpendapat ; merekalah keluarga bahagia yang 'haram' dan amat berbeda dari keluarga kita yang bahagia tapi halal dan tak akan menjulurkan tangan ke neraka " Sterk menenangkanku sedikit.
" Aku tak akan tersinggung dengan pendapatmu karena pendapatku juga demikian. Kini semuanya telah berubah. Mungkin mereka tak mengenali kita lagi " Aku tersenyum pada kakakku itu dan duduk bersamanya. "Tapi mereka berubah cukup cepat"
"Tapi 4 tahun itu bukanlah waktu yang singkat" Sterk sesekali melihatku.
"Ya, benar .." Aku nyengir. Benar, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama ini aku dan Sterk mengalami kesusahan yang amat lama dan akhirnya kami dapat bahagia mesti tanpa keluarga. Aku beruntung punya kakak sehebat dia walaupun cerewet dan mengesalkan. Kalau aku tak punya kakak sepertinya mugkin aku sudah jadi anak jalanan atau tidak aku bisa langsung mati.
,,
,,
,,
,,
Saat itu toko kami amat ramai sampai-sampai pada sore hari semua bahan roti dan buku-buku yang dijual telah tiada (hadoohh) .. Malamnya kami harus pergi ke sebuah toko di kota yang biasanya membantu kami juga.
"Hai Sterk. Tumben kau kemari! Laku keras ya?"
"Hai Paman! Yah begitulah. Terimakasih dulu telah membantuku =))" Sterk tersenyum pada Pak Will. Pak Will sudah kami anggap sebagai paman sendiri. Dia yang membantu kami mendirikan tooko dan baik sekali seperti saudara kami.
"Hmm .. Dugaanku benar kau akan kemari. Aku telah menyediakan seguudang kue untukmu" Dia tertawa, begitu juga Sterk. "Oh tidak masalah soal yang dulu. Kalian juga terimakasih ya sudahh memborong rotiku akhir-akhir ini, haha"
"Ya, kami balas budi walaupun secara tak langsung. Wkwk" Aku pun ngikik.
"Oh ya Alleen ,, ambillah kue di gudangku disana. Aku masih mau berbincang-bincang dengan Sterk. Ambilah di tempat kau biasanya mengambil ronti-roti itu" Paman Will menyuruhku. Aku hanya menurut.
Aku masuk dan membuka kardus yang berisi roti-roti. Kemudian aku mengambil karung berisi roti dari sana. Tapi kemudian aku melihat secarik kertas yang terselip dan aku mengambilnya. Dan aku kenali wajah itu. Ibuku.
Aku ingin menangis, tapi jika aku menangis aku tak akan menjadi diriku. Aku rindu ibuku. Aku membutuhkannya. Tiba-tiba saja aku rindu dengan ibu. Aku mau belaiannya. Aku mau bisikan halus darinya sebelum aku tidur. Aku rindu nyanyiannya bersama ayahku.. Aku ingin ibuku ada di sampingku dan mendengarkan segala cerita baru yang aku dapatkan bersama Sterk. Aku ingin mendengar tawa ibuku ketika aku melontarkan sebuah lolucon. Aku ingin ibuku ada di sampingku ketika aku sedang menggrutu dan aku ingin ibuku bertanya "apakah ada masalah?"
Sterk tak mungkin menggantikan posisi ibu. Sterk juga pasti merindukannya. Suaranya. Wajahnya. Hidupku disinari oleh kekayaan ibu yang tak terbatas. Hidupku terang dengan senyuman ibuku yang menyemangatiku belajar. Dan aku ingin suruhan ibuku untuk belajar. Aku ingin diiomeli ibuku seeepuasnya. Mungkin aku kesal karena iibuku sering mengomeliku kadang tapi aku tak pernah kecewa. Tapi hidup tanpa keberadaan ibu sama saja dengan neraka bagiku bila aku mengingatnya, kecuali aku melupakan ibuku dan tak memikirkannya.
Aku hendak keluar gudang ingin menanyakan mengapa ada foto ibuku di sana. Tapi begitu aku keluar, aku kaget mendengar percakapa Paman Will dan kakak.
" Aku tahu kau sulit melupakannya Sterk " Paman menepuk pundak kakakku.
" TIDAK AKAN !! TIDAK AKAN TERJADI !! " Sterk berteriak. Ia seperti ingin menangis.
" Terimalah kenyataan "
"PAMAN TIDAK MENGERTI !! APA MAKSUDNYA PAMAN BERKATA SEPERRTI ITU !!"
"STERK !! Paman adalah teman ibumu sedari kecil dan berita itu lebih dulu datang kepada paman !! Ibumu memang benar -benar dibuang ke laut oleh teman-teman papamu !!"
Sterk menangis. Ia dirangkul Paman Will dan didudukan di sova. Ia tak berhenti menangis. Dan aku juga tak dapat mengatakan apapun. Aku tak dapat menangis. Air mataku seolah habis dan mengering. Ini benar-benar neraka bagiku. Ini benar-benar mimpi belaka.
'BRAK!!' tanpa kusadari karung roti yang berat itu jatuh ke lantai dengan pendaratan yang tak mulus. Aku dengan pelan terjatuh dan berlutut. Paman Will dan Sterk kaget melihatku. Pikiranku kacau. Semuanya hilang. Ibu. Hanya ibu yang aku pikirkan. Semua yang aku ingini dari ibuku musnah. Musnah. Sudah hilang semua itu dan aku tak percaya aku tak ada di sampingnya ketika ia meninggalkanku. Aku merindukannya ..
"AAAAARRGGHHH!!!!" tanpa sadar aku pun meneteskan airmata. Aku telah kahilangan orang yang paling berharga. Aku tak dapat melihat senyumannya lagi. Apakah benar? Habiskah waktuku? Tujuan hidupku telah hilang dan tak akan kembali....
-bersambung-
menyedihkan,.... hiks5 fin cerita mu panjang amat...
BalasHapusiyah ... akupun sampai menangis membacanya XP
BalasHapuswkwkwk lebeh deh piin XP hahahah...
hadooh shiekambeeng ceritanya bagus buanget .. menanglah aku (menangis) haha