Kamis, 07 Juni 2012

The secret behind the smile. 1


The secret behind the smile.
“Sarah, sebuah nama yang berarti bagiku. Dan untukmu, bu, akan aku tunjukkan bagaimana caraku menggapai kebahagiaanku.”


1. Dimana sebuah keluarga yang aku impikan?
Api.
Terbakar.
Lenyap.
Dan dimana sebuah impian yang harus aku raih, bu?


Pernikahan yang meriah, aku beserta saudara-saudara tiriku berbaris dengan senyuman manis, berdiri tegap menyambut kedua orangtua kami. Dalam hatiku ada sedikit rasa kecewa, dan ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan ayahku memilih pengganti ibu, tapi—ini kebahagiaannya, inilah jalan yang ia tempuh. Puas rasanya melihat ayahku tersenyum kembali, setelah kecelakaan dua tahun lalu.
Aku tidak mengenalnya, setidaknya belum. Wanita itu memberikan aku dua sauara tiri, dan ia memberikan sebuah kebahagiaan pada ayahku—ia membuat ayahku tersenyum. Bagiku seseorang yang membangkitkan semangat ayah adalah orang yang cukup hebat. Aku mungkin akan bangga dengannya yang baru saja menjadi seorang ibu untukku, menjadi seorang pendamping bagi ayahku, dan menjadi seorang pelengkap untuk keluarga kami. Walaupun disamping itu, masih ada kesedihan karena aku masih merindukan ibu kandungku, tapi aku berharap ia tersenyum melihat ayahku yang gembira.


Satu bulan kemudian setelah rumah kami ditata rapih dan pembagian kamar, akhirnya aku dan kedua saudaraku tidur di satu kamar yang sama. Ini adalah hari pertama kami serumah, dan besok dua saudaraku itu akan masuk ke satu sekolah yang sama denganku. Ayahku terlihat senang saja saat ibu dan dua saudaraku itu menginjakkan kaki di rumah kami, dan aku berharap ia akan terlihat bahagia terus seperti itu.
Sebelumnya ayahku hanya memikirkan pekerjaan yang rumit, setiap hari ia selalu murung dan tak bersemangat. Berbeda dengan sekarang, aku melihat sedikit keceriaan memancar dari wajahnya. Ya, di umur 7 tahun ini walaupun aku belum sangat setuju, tapi begitu melihat ayahku yang berubah ceria, aku mengikutinya saja. Apapun yang terbaik untuk orangtuaku, aku lakukan.
“Sarah, kau akan sekamar dengan Dean dan Disa, bagaimana?” Ayah menghampiriku di kamar, kedua saudara tiri dan ibuku masih berada di bawah, di ruang tengah.
“Oh, ya. Aku akan sangat senang bisa sekamar dengan mereka.” Aku tersenyum menjawabnya. Lalu ayahku mengajakku duduk di ranjang, sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu.
“Bagaimana menurutmu dengan ibu barumu, Sarah?” Tanyanya, bertanya dengan suara yang ringan dan ceria, ia menyungging sedikit senyum padaku.
“Baik saja,” Ujarku. Lalu kami diam sejenak. “Bagaimana dengan ibu?”
“Ibu?”
“Ibu yang memberiku nama Sarah ini. Apakah di Surga ia akan tersenyum, mungkin saat melihat ayah menikahi seorang pengganti ibu?” Ayahku terdiam, tidak menjawab. “Ibu akan tersenyum, pasti.” Ayahku memandangku dengan tatapan aneh, dan aku melanjutkan, “Ibu pasti akan tersenyum melihat ayah tersenyum kembali dengan ceria. Ia melihatnya. Ia melihat ayah. Aku selalu memimpikannya setiap malam, walaupun aku tidak bertanya apakah ia senang melihat ayah yang sekarang, setidaknya aku tahu ibu akan senang melihat ayah bahagia.” Ujarku, ayahku memelukku erat.
“Ya, Sarah. Ya—ayah berharap ibu tersenyum di Surga, untuk kita.”







“Dean, Disa, ini adalah kamar baru kalian.” Ayahku mengantar kedua saudaraku itu ke depan pintu kamarku. Aku sudah menatap rapih semuanya, dan menyambut mereka berdua. “Mulai sekarang kalian bertiga akan tidur sekamar.”
“Baik ayah,” Kami tersenyum, lalu ayah meninggalkan kami bertiga. Aku membantu Dean dan Disa untuk merapikan barang-barang mereka, ke tempat yang telah disediakan.
“Dean, kau disana saja. Aku disini, dan Disa disana.” Aku tersenyum pada mereka, dan mereka berdua langsung menatapku. “Apa?”
“Tidak apa. Tapi, sekamar denganmu? Siapa yang mau!” Disa menimpukku dengan bantal.
“Ya! Kenapa kami harus sekamar denganmu?!” Dean melempariku benda, semacam mainan entah apa aku tidak memperhatikannya. “Jauhkan tempat tidurmu dari tempat tidur kami! Pindahkanlah ke pojok ruangan!” Ia memerintah. Aku menatapnya, ia membalas. “Apa lagi?! Sana!” Ia mendorongku, aku hampir jatuh, tetapi aku berpegangan.
“Yah…ya. Aku akan pindah.” Aku berbalik ke tempat tidurku dan menggesernya sedikit-sedikit. Berat, sangat berat. Aku menggeser sekuat tenaga sampai tempat tidurku mengenai tembok yang ada di pojokan ruangan. Cukup jauh dari tempat tidur mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar