Sekarang aku membayangkan aku sedang ada di luar rumah dan kemudian berlari, kencang, kencang, kencang! Cepat! Aku sedang mengejar waktu! Aku berlari melewati rawa, hanya untuk melihat pemandangan disana. Melewati danau, kemudian berlari lagi sampai aku tiba di....sebuah tempat, dekat sekolahku, lumayan dekat dari rumahku, setidaknya tidak jauh. Aku melihat banyak orang disana. Aku tersenyum di depan mereka, dan mereka tersenyum melihatku.Orang-orang memakai baju rapih seperti baju santai di Inggris. Santai, tapi sopan. Aku menunggu di suatu tempat, sepertinya di depan toko, menunggu seorang temanku.
"Hai, sudah lama?" Dia datang, namanya Alma.
"Tidak juga. Masih beberapa menit yang lalu." Aku tersenyum padanya, lalu aku mengajaknya berjalan ke sekolah.
"Kau berantakan."
"Lupakan, aku berlari tadi, kau tahu, mengejar waktu."
"Ha? Kau bercanda? Kita datang setengah jam lebih awal! Apa yang mau kau kejar? Haha, dasar pecinta rekor."
"Jika lariku masuk rekor dunia, aku akan mentraktirmu."
"Hum, dan jika kau tidak bisa masuk rekor dunia, lalu? Kapan kau mau mentraktirku?"
"Hm, entahlah. Tapi untuk masuk rekor dunia, tidak ada salahnya mencoba. Mungkin saja....aku masuk ke rekor 2000?"
"Haha! Bisa saja.."
Kami berjalan menyusuri pasar, tidak jauh dari pasar ke sekolah. Dan sampai...
"Sas!" Seseorang memanggilku, aku berlari ke arahnya. Sekolah sepi, karena memang seharusnya ini hari libur. Kelasku mengadakan acara dan aku harus ikut. Ini lebih baik daripada hanya harus diam di rumah.
"Hei Safi, baru datang?"
"Ah, tidak. Aku sudah datang dari setengah jam yang lalu."
"Oh okay." Aku memandang sekitar. "Kau sendirian?"
"Tidak, aku bersama..."
"Sas!" Seseorang berteriak memanggilku dari gedung, satu lantai di atasku, karena aku masih ada di luar gedung. Dia temanku, Swaf. Aku melambaikan tanganku, sedikit menyipitkan mata karena cuaca yang panas. "Aku akan segera turun!"
"Dia?"
"Ya, aku hanya bersamanya." Safi tersenyum padaku. "Oh, aku heran kenapa yang lain belum datang."
"Kau datang terlalu pagi."
"Ini jam setengah 10, dan seharusnya kita datang tepat jam 10. Lihat, setengah jam lagi bukan? Aku yakin salahsatu dari mereka akan terlambat." Ujarnya. Kami diam sejenak, hanya berdiam diri di tempat yang panas itu.
"Kau tahu, akan lebih baik jika kita berteduh di suatu tempat." Ujar Alma.
"Yah, benar. Aku akan menunggu di belakang gedung."
"Belakang?"
"Yap. Ada yang salah, Safi?"
"Tidak, lebih baik kita tunggu di depan." Safi menyipitkan mata ke arahku, mungkin karena panas. Kami terdiam sejenak, aku hanya memandangnya.
Menghela nafas panjang, menunduk, "yaaah.." lalu menatap Safi sebentar dan... "Okay." Kami berjalan ke depan gedung, menunggu dan menunggu, menunggu terus dan terus-terusan menunggu hingga akhhirnya 15 menit...
"Igar!" Safi memanggil seorang temanku. Igar, orang yang sedikit pendiam, tapi tidak juga. Itu jika kau hanya melihatnya sekilas. Dibalik itu semua, dia pandai bergaul, pintar, melucu, banyak hal yang ada dalam dirinya. Aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan, tapi dia mengasyikkan.
"Ah, sudah ramai."
"Sedikit," Safi melihat sudah banyak orang berdatangan, tapi belum seramai yang ada dalam pikirannya.
"Pravia akan sedikit terlambat." Ujarku, lalu menoleh ke beberapa orang. "Hei Ray," Aku mendekat, menyapa salah seorang temanku, Ray.
"Kau baru datang?"
"Tidak...setengah jam yang lalu."
"Oh, ya. Aku tadi tidak melihatmu." Ray menaruh tasnya, kemudian duduk di tangga dan menyiapkan buku. Kemudian dia melihatku, lalu melihat ke bawah. "Sepatumu baru."
"Oh? Haha, ya."
Ia melihatku. "cool"
"Hm yeah," Aku melirik sepatuku sekilas, "yap. Thanks" berakhirlah percakapan. Ray sahabatku dari saat kami masih berumur 6 tahun. Kami bertemu di Sekolah Dasar, dan sampai sekarang masih ada di kelas yang sama. Sungguh kebetulan. Dulu kami pernah bermusuhan, lalu menjadi sahabat. Tapi kini hubungan yang renggang, karena sikapnya yang sedikit berubah. Oh, tidak, bukan. Dia tidak berubah, dia hanya tumbuh menjadi seseorang dalam dirinya. Aku tahu pendapatku dan dia sering kali berselisih, tapi yang namanya teman, ya teman.
Mengobrol dengan yang lainnya, akhirnya aku bergabung dengan anak-anak perempuan itu. Lalu datang ketiga temanku yang lainnya, yaitu Yara, Nuralth, dan Qayla.
"Sas! Lama tak bertemu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar