Senin, 25 Juni 2012

Monday, 25 June 2012

Sekarang aku membayangkan aku sedang ada di luar rumah dan kemudian berlari, kencang, kencang, kencang! Cepat! Aku sedang mengejar waktu! Aku berlari melewati rawa, hanya untuk melihat pemandangan disana. Melewati danau, kemudian berlari lagi sampai aku tiba di....sebuah tempat, dekat sekolahku, lumayan dekat dari rumahku, setidaknya tidak jauh. Aku melihat banyak orang disana. Aku tersenyum di depan mereka, dan mereka tersenyum melihatku.Orang-orang memakai baju rapih seperti baju santai di Inggris. Santai, tapi sopan. Aku menunggu di suatu tempat, sepertinya di depan toko, menunggu seorang temanku.
   "Hai, sudah lama?" Dia datang, namanya Alma.
   "Tidak juga. Masih beberapa menit yang lalu." Aku tersenyum padanya, lalu aku mengajaknya berjalan ke sekolah.
   "Kau berantakan."
   "Lupakan, aku berlari tadi, kau tahu, mengejar waktu."
   "Ha? Kau bercanda? Kita datang setengah jam lebih awal! Apa yang mau kau kejar? Haha, dasar pecinta rekor."
   "Jika lariku masuk rekor dunia, aku akan mentraktirmu."
   "Hum, dan jika kau tidak bisa masuk rekor dunia, lalu? Kapan kau mau mentraktirku?"
   "Hm, entahlah. Tapi untuk masuk rekor dunia, tidak ada salahnya mencoba. Mungkin saja....aku masuk ke rekor 2000?"
   "Haha! Bisa saja.."
   Kami berjalan menyusuri pasar, tidak jauh dari pasar ke sekolah. Dan sampai...
   "Sas!" Seseorang memanggilku, aku berlari ke arahnya. Sekolah sepi, karena memang seharusnya ini hari libur. Kelasku mengadakan acara dan aku harus ikut. Ini lebih baik daripada hanya harus diam di rumah.
   "Hei Safi, baru datang?"
   "Ah, tidak. Aku sudah datang dari setengah jam yang lalu."
   "Oh okay." Aku memandang sekitar. "Kau sendirian?"
   "Tidak, aku bersama..."
   "Sas!" Seseorang berteriak memanggilku dari gedung, satu lantai di atasku, karena aku masih ada di luar gedung. Dia temanku, Swaf. Aku melambaikan tanganku, sedikit menyipitkan mata karena cuaca yang panas. "Aku akan segera turun!"
   "Dia?"
   "Ya, aku hanya bersamanya." Safi tersenyum padaku. "Oh, aku heran kenapa yang lain belum datang."
   "Kau datang terlalu pagi."
   "Ini jam setengah 10, dan seharusnya kita datang tepat jam 10. Lihat, setengah jam lagi bukan? Aku yakin salahsatu dari mereka akan terlambat." Ujarnya. Kami diam sejenak, hanya berdiam diri di tempat yang panas itu.
   "Kau tahu, akan lebih baik jika kita berteduh di suatu tempat." Ujar Alma.
   "Yah, benar. Aku akan menunggu di belakang gedung."
   "Belakang?"
   "Yap. Ada yang salah, Safi?"
   "Tidak, lebih baik kita tunggu di depan." Safi menyipitkan mata ke arahku, mungkin karena panas. Kami terdiam sejenak, aku hanya memandangnya.
   Menghela nafas panjang, menunduk, "yaaah.." lalu menatap Safi sebentar dan... "Okay." Kami berjalan ke depan gedung, menunggu dan menunggu, menunggu terus dan terus-terusan menunggu hingga akhhirnya 15 menit...
   "Igar!" Safi memanggil seorang temanku. Igar, orang yang sedikit pendiam, tapi tidak juga. Itu jika kau hanya melihatnya sekilas. Dibalik itu semua, dia pandai bergaul, pintar, melucu, banyak hal yang ada dalam dirinya. Aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan, tapi dia mengasyikkan.
   "Ah, sudah ramai."
   "Sedikit," Safi melihat sudah banyak orang berdatangan, tapi belum seramai yang ada dalam pikirannya.
   "Pravia akan sedikit terlambat." Ujarku, lalu menoleh ke beberapa orang. "Hei Ray," Aku mendekat, menyapa salah seorang temanku, Ray.
   "Kau baru datang?"
   "Tidak...setengah jam yang lalu."
   "Oh, ya. Aku tadi tidak melihatmu." Ray menaruh tasnya, kemudian duduk di tangga dan menyiapkan buku. Kemudian dia melihatku, lalu melihat ke bawah. "Sepatumu baru."
   "Oh? Haha, ya."
   Ia melihatku. "cool"
   "Hm yeah," Aku melirik sepatuku sekilas, "yap. Thanks" berakhirlah percakapan. Ray sahabatku dari saat kami masih berumur 6 tahun. Kami bertemu di Sekolah Dasar, dan sampai sekarang masih ada di kelas yang sama. Sungguh kebetulan. Dulu kami pernah bermusuhan, lalu menjadi sahabat. Tapi kini hubungan yang renggang, karena sikapnya yang sedikit berubah. Oh, tidak, bukan. Dia tidak berubah, dia hanya tumbuh menjadi seseorang dalam dirinya. Aku tahu pendapatku dan dia sering kali berselisih, tapi yang namanya teman, ya teman.
    Mengobrol dengan yang lainnya, akhirnya aku bergabung dengan anak-anak perempuan itu. Lalu datang ketiga temanku yang lainnya, yaitu Yara, Nuralth, dan Qayla.
   "Sas! Lama tak bertemu!"



























Kamis, 07 Juni 2012

The secret behind the smile. 1


The secret behind the smile.
“Sarah, sebuah nama yang berarti bagiku. Dan untukmu, bu, akan aku tunjukkan bagaimana caraku menggapai kebahagiaanku.”


1. Dimana sebuah keluarga yang aku impikan?
Api.
Terbakar.
Lenyap.
Dan dimana sebuah impian yang harus aku raih, bu?


Pernikahan yang meriah, aku beserta saudara-saudara tiriku berbaris dengan senyuman manis, berdiri tegap menyambut kedua orangtua kami. Dalam hatiku ada sedikit rasa kecewa, dan ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan ayahku memilih pengganti ibu, tapi—ini kebahagiaannya, inilah jalan yang ia tempuh. Puas rasanya melihat ayahku tersenyum kembali, setelah kecelakaan dua tahun lalu.
Aku tidak mengenalnya, setidaknya belum. Wanita itu memberikan aku dua sauara tiri, dan ia memberikan sebuah kebahagiaan pada ayahku—ia membuat ayahku tersenyum. Bagiku seseorang yang membangkitkan semangat ayah adalah orang yang cukup hebat. Aku mungkin akan bangga dengannya yang baru saja menjadi seorang ibu untukku, menjadi seorang pendamping bagi ayahku, dan menjadi seorang pelengkap untuk keluarga kami. Walaupun disamping itu, masih ada kesedihan karena aku masih merindukan ibu kandungku, tapi aku berharap ia tersenyum melihat ayahku yang gembira.


Satu bulan kemudian setelah rumah kami ditata rapih dan pembagian kamar, akhirnya aku dan kedua saudaraku tidur di satu kamar yang sama. Ini adalah hari pertama kami serumah, dan besok dua saudaraku itu akan masuk ke satu sekolah yang sama denganku. Ayahku terlihat senang saja saat ibu dan dua saudaraku itu menginjakkan kaki di rumah kami, dan aku berharap ia akan terlihat bahagia terus seperti itu.
Sebelumnya ayahku hanya memikirkan pekerjaan yang rumit, setiap hari ia selalu murung dan tak bersemangat. Berbeda dengan sekarang, aku melihat sedikit keceriaan memancar dari wajahnya. Ya, di umur 7 tahun ini walaupun aku belum sangat setuju, tapi begitu melihat ayahku yang berubah ceria, aku mengikutinya saja. Apapun yang terbaik untuk orangtuaku, aku lakukan.
“Sarah, kau akan sekamar dengan Dean dan Disa, bagaimana?” Ayah menghampiriku di kamar, kedua saudara tiri dan ibuku masih berada di bawah, di ruang tengah.
“Oh, ya. Aku akan sangat senang bisa sekamar dengan mereka.” Aku tersenyum menjawabnya. Lalu ayahku mengajakku duduk di ranjang, sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu.
“Bagaimana menurutmu dengan ibu barumu, Sarah?” Tanyanya, bertanya dengan suara yang ringan dan ceria, ia menyungging sedikit senyum padaku.
“Baik saja,” Ujarku. Lalu kami diam sejenak. “Bagaimana dengan ibu?”
“Ibu?”
“Ibu yang memberiku nama Sarah ini. Apakah di Surga ia akan tersenyum, mungkin saat melihat ayah menikahi seorang pengganti ibu?” Ayahku terdiam, tidak menjawab. “Ibu akan tersenyum, pasti.” Ayahku memandangku dengan tatapan aneh, dan aku melanjutkan, “Ibu pasti akan tersenyum melihat ayah tersenyum kembali dengan ceria. Ia melihatnya. Ia melihat ayah. Aku selalu memimpikannya setiap malam, walaupun aku tidak bertanya apakah ia senang melihat ayah yang sekarang, setidaknya aku tahu ibu akan senang melihat ayah bahagia.” Ujarku, ayahku memelukku erat.
“Ya, Sarah. Ya—ayah berharap ibu tersenyum di Surga, untuk kita.”







“Dean, Disa, ini adalah kamar baru kalian.” Ayahku mengantar kedua saudaraku itu ke depan pintu kamarku. Aku sudah menatap rapih semuanya, dan menyambut mereka berdua. “Mulai sekarang kalian bertiga akan tidur sekamar.”
“Baik ayah,” Kami tersenyum, lalu ayah meninggalkan kami bertiga. Aku membantu Dean dan Disa untuk merapikan barang-barang mereka, ke tempat yang telah disediakan.
“Dean, kau disana saja. Aku disini, dan Disa disana.” Aku tersenyum pada mereka, dan mereka berdua langsung menatapku. “Apa?”
“Tidak apa. Tapi, sekamar denganmu? Siapa yang mau!” Disa menimpukku dengan bantal.
“Ya! Kenapa kami harus sekamar denganmu?!” Dean melempariku benda, semacam mainan entah apa aku tidak memperhatikannya. “Jauhkan tempat tidurmu dari tempat tidur kami! Pindahkanlah ke pojok ruangan!” Ia memerintah. Aku menatapnya, ia membalas. “Apa lagi?! Sana!” Ia mendorongku, aku hampir jatuh, tetapi aku berpegangan.
“Yah…ya. Aku akan pindah.” Aku berbalik ke tempat tidurku dan menggesernya sedikit-sedikit. Berat, sangat berat. Aku menggeser sekuat tenaga sampai tempat tidurku mengenai tembok yang ada di pojokan ruangan. Cukup jauh dari tempat tidur mereka.



Switch to Blogger.

   Sometimes being too addicted to the internet, especially facebook and twitter. I tried switching to study or write something. At least I have to work, because my job is as a writer. Social networking has always divert my time and make the script I had to quickly gather delayed. I'm confused and nervous, because it is an obligation. On the other hand, social networking has always made ​​me entertained and out of stress.
   Oh, you must know about life. I go through life always is; depression. I'm always nervous when doing something. Many conflicts and problems that I couldn't make it all clear. Therefore I repeat, 'Social networks make the depression and stress disappear'. That's what I need, and that's all there in social networks like twitter. BUT, because of social networking I get into trouble for not making the manuscript on time. 
   Writing is my hobby, but why there should be a deadline to make it? Why there should be a time limit? YES. I made the deadline. I own a promise to gather text on what date, what time, I was a decisive time. I made ​​it all because I think I have to start learn 'DISCIPLINE'. Because I have to know the time, on time. I have a hobby, because I work for writing. But it's hard, so hard, because I have a social network. I'm looking for a solution and ..................OH!
   BLOGGER!!
   Hey! Listen! You know, I love to play with the internet. Because it's a kind of entertainment. And you know what? There is one way to make disciplined and keep working, but not depression. Blogger! I could make a story in this blogger, with a nice view, I can share stories with others. Yes, this is one of the main solution that I finally found! Starting today who would I write here are a few stories, written in Indonesian or English or another language up. Wish me luck! I will publish a masterpiece!,:)_