Aku sedang memikirkan cerita apa yang harus ku tulis hari ini. Aku mendapatkan beberapa ide, tetapi itu lain cerita. Aku ingin sharing tentang bagaimana kejadian hari ini, tentang beberapa hal yang tertutupi. I'll share my diary to all of you, while I know some friends will read it as long as they can, no mater what but I think I have to write it. I don't care whatwill happen next, but this is the truth.
A nice day start with the sun blowing on the sky. I opened my window so I can say 'hello' to my world. How a nice day, I thought before.
I go to bath room and prepare for school after woke up. Wonder if some miracles happen in this day, for example, see someone smiles to me at the morning or text me. About him, I won't tell you because it's a secret.
Arrived school, I see my friends are sitting in front of the build, waiting for the bell. But I don't see someone, a girl who usually arrived faster than me. But I don't see her now. Where is she? I feel something strange now, but I'm waiting. I go to class and put my bag. Then, I'm back to my friends. Still waiting for the bell.
Well, let's go to the point. I don't want to tell you about a boring subject at class. I wanna share about my stories about girls-talk. Actually, this is a bad memories because I got such mistaken. Even I don't want to make it twice, it wouldn't change anything. The fact is, I'm wrong. Every body look at me like I'm the worst.
About those problems... it's start while we're going to fun cooking. You know, when girls start to make some foods. It's about banana, and I can't handle it. I don't like it so much and it's fucking annoying. I can't control my self when the smell is bothering my nose. Fast, I'm getting dizzy.
GOD! I can't help my team, this is a competition there we have to win. But I'm so sorry I can't handle it, really. I never thought this is would be so horrible! But... I know they're misunderstanding because they don't know how to feel about it. It's really annoying. Another team mad at me and talking about me behind. I tried to don't care but I really want to kick their fucking ass! It's about my group, not yours! Mind yours before you judge me or you will die on closet with a shit!
I knew I was wrong but I can't handle my emotion of it. Well, I'm glad I got dizzy, if not, I'll punch your face and make it better than now. What a freaky girl with a fat, with a stupid ass. And once again, plastic. I'd rather be a joke!
Jumat, 28 September 2012
Senin, 25 Juni 2012
Monday, 25 June 2012
Sekarang aku membayangkan aku sedang ada di luar rumah dan kemudian berlari, kencang, kencang, kencang! Cepat! Aku sedang mengejar waktu! Aku berlari melewati rawa, hanya untuk melihat pemandangan disana. Melewati danau, kemudian berlari lagi sampai aku tiba di....sebuah tempat, dekat sekolahku, lumayan dekat dari rumahku, setidaknya tidak jauh. Aku melihat banyak orang disana. Aku tersenyum di depan mereka, dan mereka tersenyum melihatku.Orang-orang memakai baju rapih seperti baju santai di Inggris. Santai, tapi sopan. Aku menunggu di suatu tempat, sepertinya di depan toko, menunggu seorang temanku.
"Hai, sudah lama?" Dia datang, namanya Alma.
"Tidak juga. Masih beberapa menit yang lalu." Aku tersenyum padanya, lalu aku mengajaknya berjalan ke sekolah.
"Kau berantakan."
"Lupakan, aku berlari tadi, kau tahu, mengejar waktu."
"Ha? Kau bercanda? Kita datang setengah jam lebih awal! Apa yang mau kau kejar? Haha, dasar pecinta rekor."
"Jika lariku masuk rekor dunia, aku akan mentraktirmu."
"Hum, dan jika kau tidak bisa masuk rekor dunia, lalu? Kapan kau mau mentraktirku?"
"Hm, entahlah. Tapi untuk masuk rekor dunia, tidak ada salahnya mencoba. Mungkin saja....aku masuk ke rekor 2000?"
"Haha! Bisa saja.."
Kami berjalan menyusuri pasar, tidak jauh dari pasar ke sekolah. Dan sampai...
"Sas!" Seseorang memanggilku, aku berlari ke arahnya. Sekolah sepi, karena memang seharusnya ini hari libur. Kelasku mengadakan acara dan aku harus ikut. Ini lebih baik daripada hanya harus diam di rumah.
"Hei Safi, baru datang?"
"Ah, tidak. Aku sudah datang dari setengah jam yang lalu."
"Oh okay." Aku memandang sekitar. "Kau sendirian?"
"Tidak, aku bersama..."
"Sas!" Seseorang berteriak memanggilku dari gedung, satu lantai di atasku, karena aku masih ada di luar gedung. Dia temanku, Swaf. Aku melambaikan tanganku, sedikit menyipitkan mata karena cuaca yang panas. "Aku akan segera turun!"
"Dia?"
"Ya, aku hanya bersamanya." Safi tersenyum padaku. "Oh, aku heran kenapa yang lain belum datang."
"Kau datang terlalu pagi."
"Ini jam setengah 10, dan seharusnya kita datang tepat jam 10. Lihat, setengah jam lagi bukan? Aku yakin salahsatu dari mereka akan terlambat." Ujarnya. Kami diam sejenak, hanya berdiam diri di tempat yang panas itu.
"Kau tahu, akan lebih baik jika kita berteduh di suatu tempat." Ujar Alma.
"Yah, benar. Aku akan menunggu di belakang gedung."
"Belakang?"
"Yap. Ada yang salah, Safi?"
"Tidak, lebih baik kita tunggu di depan." Safi menyipitkan mata ke arahku, mungkin karena panas. Kami terdiam sejenak, aku hanya memandangnya.
Menghela nafas panjang, menunduk, "yaaah.." lalu menatap Safi sebentar dan... "Okay." Kami berjalan ke depan gedung, menunggu dan menunggu, menunggu terus dan terus-terusan menunggu hingga akhhirnya 15 menit...
"Igar!" Safi memanggil seorang temanku. Igar, orang yang sedikit pendiam, tapi tidak juga. Itu jika kau hanya melihatnya sekilas. Dibalik itu semua, dia pandai bergaul, pintar, melucu, banyak hal yang ada dalam dirinya. Aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan, tapi dia mengasyikkan.
"Ah, sudah ramai."
"Sedikit," Safi melihat sudah banyak orang berdatangan, tapi belum seramai yang ada dalam pikirannya.
"Pravia akan sedikit terlambat." Ujarku, lalu menoleh ke beberapa orang. "Hei Ray," Aku mendekat, menyapa salah seorang temanku, Ray.
"Kau baru datang?"
"Tidak...setengah jam yang lalu."
"Oh, ya. Aku tadi tidak melihatmu." Ray menaruh tasnya, kemudian duduk di tangga dan menyiapkan buku. Kemudian dia melihatku, lalu melihat ke bawah. "Sepatumu baru."
"Oh? Haha, ya."
Ia melihatku. "cool"
"Hm yeah," Aku melirik sepatuku sekilas, "yap. Thanks" berakhirlah percakapan. Ray sahabatku dari saat kami masih berumur 6 tahun. Kami bertemu di Sekolah Dasar, dan sampai sekarang masih ada di kelas yang sama. Sungguh kebetulan. Dulu kami pernah bermusuhan, lalu menjadi sahabat. Tapi kini hubungan yang renggang, karena sikapnya yang sedikit berubah. Oh, tidak, bukan. Dia tidak berubah, dia hanya tumbuh menjadi seseorang dalam dirinya. Aku tahu pendapatku dan dia sering kali berselisih, tapi yang namanya teman, ya teman.
Mengobrol dengan yang lainnya, akhirnya aku bergabung dengan anak-anak perempuan itu. Lalu datang ketiga temanku yang lainnya, yaitu Yara, Nuralth, dan Qayla.
"Sas! Lama tak bertemu!"
"Hai, sudah lama?" Dia datang, namanya Alma.
"Tidak juga. Masih beberapa menit yang lalu." Aku tersenyum padanya, lalu aku mengajaknya berjalan ke sekolah.
"Kau berantakan."
"Lupakan, aku berlari tadi, kau tahu, mengejar waktu."
"Ha? Kau bercanda? Kita datang setengah jam lebih awal! Apa yang mau kau kejar? Haha, dasar pecinta rekor."
"Jika lariku masuk rekor dunia, aku akan mentraktirmu."
"Hum, dan jika kau tidak bisa masuk rekor dunia, lalu? Kapan kau mau mentraktirku?"
"Hm, entahlah. Tapi untuk masuk rekor dunia, tidak ada salahnya mencoba. Mungkin saja....aku masuk ke rekor 2000?"
"Haha! Bisa saja.."
Kami berjalan menyusuri pasar, tidak jauh dari pasar ke sekolah. Dan sampai...
"Sas!" Seseorang memanggilku, aku berlari ke arahnya. Sekolah sepi, karena memang seharusnya ini hari libur. Kelasku mengadakan acara dan aku harus ikut. Ini lebih baik daripada hanya harus diam di rumah.
"Hei Safi, baru datang?"
"Ah, tidak. Aku sudah datang dari setengah jam yang lalu."
"Oh okay." Aku memandang sekitar. "Kau sendirian?"
"Tidak, aku bersama..."
"Sas!" Seseorang berteriak memanggilku dari gedung, satu lantai di atasku, karena aku masih ada di luar gedung. Dia temanku, Swaf. Aku melambaikan tanganku, sedikit menyipitkan mata karena cuaca yang panas. "Aku akan segera turun!"
"Dia?"
"Ya, aku hanya bersamanya." Safi tersenyum padaku. "Oh, aku heran kenapa yang lain belum datang."
"Kau datang terlalu pagi."
"Ini jam setengah 10, dan seharusnya kita datang tepat jam 10. Lihat, setengah jam lagi bukan? Aku yakin salahsatu dari mereka akan terlambat." Ujarnya. Kami diam sejenak, hanya berdiam diri di tempat yang panas itu.
"Kau tahu, akan lebih baik jika kita berteduh di suatu tempat." Ujar Alma.
"Yah, benar. Aku akan menunggu di belakang gedung."
"Belakang?"
"Yap. Ada yang salah, Safi?"
"Tidak, lebih baik kita tunggu di depan." Safi menyipitkan mata ke arahku, mungkin karena panas. Kami terdiam sejenak, aku hanya memandangnya.
Menghela nafas panjang, menunduk, "yaaah.." lalu menatap Safi sebentar dan... "Okay." Kami berjalan ke depan gedung, menunggu dan menunggu, menunggu terus dan terus-terusan menunggu hingga akhhirnya 15 menit...
"Igar!" Safi memanggil seorang temanku. Igar, orang yang sedikit pendiam, tapi tidak juga. Itu jika kau hanya melihatnya sekilas. Dibalik itu semua, dia pandai bergaul, pintar, melucu, banyak hal yang ada dalam dirinya. Aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan, tapi dia mengasyikkan.
"Ah, sudah ramai."
"Sedikit," Safi melihat sudah banyak orang berdatangan, tapi belum seramai yang ada dalam pikirannya.
"Pravia akan sedikit terlambat." Ujarku, lalu menoleh ke beberapa orang. "Hei Ray," Aku mendekat, menyapa salah seorang temanku, Ray.
"Kau baru datang?"
"Tidak...setengah jam yang lalu."
"Oh, ya. Aku tadi tidak melihatmu." Ray menaruh tasnya, kemudian duduk di tangga dan menyiapkan buku. Kemudian dia melihatku, lalu melihat ke bawah. "Sepatumu baru."
"Oh? Haha, ya."
Ia melihatku. "cool"
"Hm yeah," Aku melirik sepatuku sekilas, "yap. Thanks" berakhirlah percakapan. Ray sahabatku dari saat kami masih berumur 6 tahun. Kami bertemu di Sekolah Dasar, dan sampai sekarang masih ada di kelas yang sama. Sungguh kebetulan. Dulu kami pernah bermusuhan, lalu menjadi sahabat. Tapi kini hubungan yang renggang, karena sikapnya yang sedikit berubah. Oh, tidak, bukan. Dia tidak berubah, dia hanya tumbuh menjadi seseorang dalam dirinya. Aku tahu pendapatku dan dia sering kali berselisih, tapi yang namanya teman, ya teman.
Mengobrol dengan yang lainnya, akhirnya aku bergabung dengan anak-anak perempuan itu. Lalu datang ketiga temanku yang lainnya, yaitu Yara, Nuralth, dan Qayla.
"Sas! Lama tak bertemu!"
Kamis, 07 Juni 2012
The secret behind the smile. 1
The secret behind the smile.
“Sarah, sebuah nama yang berarti bagiku. Dan untukmu, bu, akan aku tunjukkan bagaimana caraku menggapai kebahagiaanku.”
1. Dimana sebuah keluarga yang aku impikan?
Api.
Terbakar.
Lenyap.
Dan dimana sebuah impian yang harus aku raih, bu?
Pernikahan yang meriah, aku beserta saudara-saudara tiriku berbaris dengan senyuman manis, berdiri tegap menyambut kedua orangtua kami. Dalam hatiku ada sedikit rasa kecewa, dan ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan ayahku memilih pengganti ibu, tapi—ini kebahagiaannya, inilah jalan yang ia tempuh. Puas rasanya melihat ayahku tersenyum kembali, setelah kecelakaan dua tahun lalu.
Aku tidak mengenalnya, setidaknya belum. Wanita itu memberikan aku dua sauara tiri, dan ia memberikan sebuah kebahagiaan pada ayahku—ia membuat ayahku tersenyum. Bagiku seseorang yang membangkitkan semangat ayah adalah orang yang cukup hebat. Aku mungkin akan bangga dengannya yang baru saja menjadi seorang ibu untukku, menjadi seorang pendamping bagi ayahku, dan menjadi seorang pelengkap untuk keluarga kami. Walaupun disamping itu, masih ada kesedihan karena aku masih merindukan ibu kandungku, tapi aku berharap ia tersenyum melihat ayahku yang gembira.
Satu bulan kemudian setelah rumah kami ditata rapih dan pembagian kamar, akhirnya aku dan kedua saudaraku tidur di satu kamar yang sama. Ini adalah hari pertama kami serumah, dan besok dua saudaraku itu akan masuk ke satu sekolah yang sama denganku. Ayahku terlihat senang saja saat ibu dan dua saudaraku itu menginjakkan kaki di rumah kami, dan aku berharap ia akan terlihat bahagia terus seperti itu.
Sebelumnya ayahku hanya memikirkan pekerjaan yang rumit, setiap hari ia selalu murung dan tak bersemangat. Berbeda dengan sekarang, aku melihat sedikit keceriaan memancar dari wajahnya. Ya, di umur 7 tahun ini walaupun aku belum sangat setuju, tapi begitu melihat ayahku yang berubah ceria, aku mengikutinya saja. Apapun yang terbaik untuk orangtuaku, aku lakukan.
“Sarah, kau akan sekamar dengan Dean dan Disa, bagaimana?” Ayah menghampiriku di kamar, kedua saudara tiri dan ibuku masih berada di bawah, di ruang tengah.
“Oh, ya. Aku akan sangat senang bisa sekamar dengan mereka.” Aku tersenyum menjawabnya. Lalu ayahku mengajakku duduk di ranjang, sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu.
“Bagaimana menurutmu dengan ibu barumu, Sarah?” Tanyanya, bertanya dengan suara yang ringan dan ceria, ia menyungging sedikit senyum padaku.
“Baik saja,” Ujarku. Lalu kami diam sejenak. “Bagaimana dengan ibu?”
“Ibu?”
“Ibu yang memberiku nama Sarah ini. Apakah di Surga ia akan tersenyum, mungkin saat melihat ayah menikahi seorang pengganti ibu?” Ayahku terdiam, tidak menjawab. “Ibu akan tersenyum, pasti.” Ayahku memandangku dengan tatapan aneh, dan aku melanjutkan, “Ibu pasti akan tersenyum melihat ayah tersenyum kembali dengan ceria. Ia melihatnya. Ia melihat ayah. Aku selalu memimpikannya setiap malam, walaupun aku tidak bertanya apakah ia senang melihat ayah yang sekarang, setidaknya aku tahu ibu akan senang melihat ayah bahagia.” Ujarku, ayahku memelukku erat.
“Ya, Sarah. Ya—ayah berharap ibu tersenyum di Surga, untuk kita.”
“Dean, Disa, ini adalah kamar baru kalian.” Ayahku mengantar kedua saudaraku itu ke depan pintu kamarku. Aku sudah menatap rapih semuanya, dan menyambut mereka berdua. “Mulai sekarang kalian bertiga akan tidur sekamar.”
“Baik ayah,” Kami tersenyum, lalu ayah meninggalkan kami bertiga. Aku membantu Dean dan Disa untuk merapikan barang-barang mereka, ke tempat yang telah disediakan.
“Dean, kau disana saja. Aku disini, dan Disa disana.” Aku tersenyum pada mereka, dan mereka berdua langsung menatapku. “Apa?”
“Tidak apa. Tapi, sekamar denganmu? Siapa yang mau!” Disa menimpukku dengan bantal.
“Ya! Kenapa kami harus sekamar denganmu?!” Dean melempariku benda, semacam mainan entah apa aku tidak memperhatikannya. “Jauhkan tempat tidurmu dari tempat tidur kami! Pindahkanlah ke pojok ruangan!” Ia memerintah. Aku menatapnya, ia membalas. “Apa lagi?! Sana!” Ia mendorongku, aku hampir jatuh, tetapi aku berpegangan.
“Yah…ya. Aku akan pindah.” Aku berbalik ke tempat tidurku dan menggesernya sedikit-sedikit. Berat, sangat berat. Aku menggeser sekuat tenaga sampai tempat tidurku mengenai tembok yang ada di pojokan ruangan. Cukup jauh dari tempat tidur mereka.
Switch to Blogger.
Sometimes being too addicted to the internet, especially facebook and twitter. I tried switching to study or write something. At least I have to work, because my job is as a writer. Social networking has always divert my time and make the script I had to quickly gather delayed. I'm confused and nervous, because it is an obligation. On the other hand, social networking has always made me entertained and out of stress.
Oh, you must know about life. I go through life always is; depression. I'm always nervous when doing something. Many conflicts and problems that I couldn't make it all clear. Therefore I repeat, 'Social networks make the depression and stress disappear'. That's what I need, and that's all there in social networks like twitter. BUT, because of social networking I get into trouble for not making the manuscript on time.
Writing is my hobby, but why there should be a deadline to make it? Why there should be a time limit? YES. I made the deadline. I own a promise to gather text on what date, what time, I was a decisive time. I made it all because I think I have to start learn 'DISCIPLINE'. Because I have to know the time, on time. I have a hobby, because I work for writing. But it's hard, so hard, because I have a social network. I'm looking for a solution and ..................OH!
BLOGGER!!
Hey! Listen! You know, I love to play with the internet. Because it's a kind of entertainment. And you know what? There is one way to make disciplined and keep working, but not depression. Blogger! I could make a story in this blogger, with a nice view, I can share stories with others. Yes, this is one of the main solution that I finally found! Starting today who would I write here are a few stories, written in Indonesian or English or another language up. Wish me luck! I will publish a masterpiece!,:)_
Oh, you must know about life. I go through life always is; depression. I'm always nervous when doing something. Many conflicts and problems that I couldn't make it all clear. Therefore I repeat, 'Social networks make the depression and stress disappear'. That's what I need, and that's all there in social networks like twitter. BUT, because of social networking I get into trouble for not making the manuscript on time.
Writing is my hobby, but why there should be a deadline to make it? Why there should be a time limit? YES. I made the deadline. I own a promise to gather text on what date, what time, I was a decisive time. I made it all because I think I have to start learn 'DISCIPLINE'. Because I have to know the time, on time. I have a hobby, because I work for writing. But it's hard, so hard, because I have a social network. I'm looking for a solution and ..................OH!
BLOGGER!!
Hey! Listen! You know, I love to play with the internet. Because it's a kind of entertainment. And you know what? There is one way to make disciplined and keep working, but not depression. Blogger! I could make a story in this blogger, with a nice view, I can share stories with others. Yes, this is one of the main solution that I finally found! Starting today who would I write here are a few stories, written in Indonesian or English or another language up. Wish me luck! I will publish a masterpiece!,:)_
Senin, 14 Mei 2012
Indonesian: Pemberi Semangat Tak Dikenal.
Terimakasih bagi yang selalu memberi motivasi dari jauh untuk membuat skripsi, lirik, dan lainnya. Yang memberi semangat untuk mengerjakan aktivitas dan seseorang yang memberi mimpi yang nyata. Terimakasih sebanyak-banyaknya karena sesungguhnya itu sangatlah berarti,,,:)
Aku lihat dia memberi salam pada penggemarnya tanpa tahu siapa, begitu juga padaku. Dia melihatku hanya sekilas tanpa tahu diriku, tanpa tahu siapa aku. Aku pun juga, melihatnya tanpa kenal tanpa dekat tapi SATU; aku menyukainya bagaimanapun dia, dan ingin mengenalnya lebih dekat.
Tanpa sadar ia memberikan support yang terbesar, terimakasih, aku nggak akan punya mimpi kayak gini mungkin tanpamu, dan alhamdulillah ya Allah aku berterimakasih kepadaMu telah membuatku ingin mengenalnya, dekatkanlah kami lebih dekat lagi,,aamiin,,:)
Aku lihat dia memberi salam pada penggemarnya tanpa tahu siapa, begitu juga padaku. Dia melihatku hanya sekilas tanpa tahu diriku, tanpa tahu siapa aku. Aku pun juga, melihatnya tanpa kenal tanpa dekat tapi SATU; aku menyukainya bagaimanapun dia, dan ingin mengenalnya lebih dekat.
Tanpa sadar ia memberikan support yang terbesar, terimakasih, aku nggak akan punya mimpi kayak gini mungkin tanpamu, dan alhamdulillah ya Allah aku berterimakasih kepadaMu telah membuatku ingin mengenalnya, dekatkanlah kami lebih dekat lagi,,aamiin,,:)
Indonesian: Satu Lagu Hanya Untuknya,:)
Aku seorang penulis, iya. Tapi apakah salahnya saat menyumbangkan karya pada bidang lain? Menyanyi misalnya? Sebuah lirik lagu khusus untuknya, ingin aku mainkan bersama piano tercinta, hanya untuk dia bersama mimpiku, dia dan dia, mimpi yang suatu hari akan terwujud,,,,:)
Serius, seseorang yang jauh, aku ingin menjadikan lirik lagu ini menjadi sebuah inspirasinya. Aku ingin memainkan ini untuknya. Kalo lo mau tau siapa dia, dia adalah orang yang jaaauuuh dan berbeda derajat. Dia gak kenal gue, dan gue cuma tau dia sekedar melihat dari media. Tapi percaya, cinta tak mengenal tempat dan cinta itu buta, perasaan yang timbul dengan sendirinya, dan ini BUKAN HANYA sekedar melihat wajah, suara, penampilan luarnya TIDAK. Bukan hanya sekedar itu, tetapi suatu ikatan yang menarik, yang tidak dapat dijelaskan. Hahaha bismillah,,,:)
Serius, seseorang yang jauh, aku ingin menjadikan lirik lagu ini menjadi sebuah inspirasinya. Aku ingin memainkan ini untuknya. Kalo lo mau tau siapa dia, dia adalah orang yang jaaauuuh dan berbeda derajat. Dia gak kenal gue, dan gue cuma tau dia sekedar melihat dari media. Tapi percaya, cinta tak mengenal tempat dan cinta itu buta, perasaan yang timbul dengan sendirinya, dan ini BUKAN HANYA sekedar melihat wajah, suara, penampilan luarnya TIDAK. Bukan hanya sekedar itu, tetapi suatu ikatan yang menarik, yang tidak dapat dijelaskan. Hahaha bismillah,,,:)
Minggu, 13 Mei 2012
Indonesian: Twitter, Sebuah Cinta Pertama
Kehilangan dompet, yang selalu setia ada saat gue pergi kemana-mana, ada duitnya, dan itu emang kesayangan gue deh walaupun gue gatau dompet itu punya siapa *eh!. Tapi dia bukan cinta pertama gue saat itu. Gue mau cerita tentang cinta pertama gue itu.....
Pertama gue tau facebook, gue langsung bikin account dengan nama alay yang sengaja gue bikin (jangan salah, dulu gue alay bangeeud) selanjutnya gue maen terus berjam-jam, bahkan berhari-hari sampai orangtua gue heran gue gak makan. Mungkin kata mereka "yaudahlah bagus, jatah makan kita bertambah tuh" woy! gue manusia perlu makan! Щ(ºДºщ)
Kemudian iklan-iklan yang gak jelas masuk ke account gue dengan anehnya tanpa gue langsung sadarin. Gue taunya dari seorang waria (gue liat gen nya cewek, tapi profpicnya cowok jadi gue beramsumsi dia waria) berkata ada iklan yang gak bagus di account facebook gue. OKE FINE! LO ITU UDAH NGEHINA GUE BANGED, LO ITU MAUNYA APA SIH KOK NGEHIANATIN Gue GITU (bahasa gue ke facebook, dan dia bukan cinta pertama gue, dia orang pertama yang udah menghianati gue habis-habisan!) *hek ^,
Terus masalah twitter gue mulai diolok-olok. Karena pada zaman segitu gue belom punya twitter, gue diolok-olokin mulu sih. Akhirnya gue bikin tuh, dan gue ketagihan lagi! Teruss teruus teruus dan pada akhirnya gue dibilang ngespam. Lo tau gak, following gue kan tadinya 1232~ ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~ ,, dan followers gue yang tadinya 102, menjadi 54-_- tapi gapapa,, twitter selalu menemanii (ʃƪ´▽`) ♥ (´▽`ʃƪ
Sekian dan terimakasih,,:)
Pertama gue tau facebook, gue langsung bikin account dengan nama alay yang sengaja gue bikin (jangan salah, dulu gue alay bangeeud) selanjutnya gue maen terus berjam-jam, bahkan berhari-hari sampai orangtua gue heran gue gak makan. Mungkin kata mereka "yaudahlah bagus, jatah makan kita bertambah tuh" woy! gue manusia perlu makan! Щ(ºДºщ)
Kemudian iklan-iklan yang gak jelas masuk ke account gue dengan anehnya tanpa gue langsung sadarin. Gue taunya dari seorang waria (gue liat gen nya cewek, tapi profpicnya cowok jadi gue beramsumsi dia waria) berkata ada iklan yang gak bagus di account facebook gue. OKE FINE! LO ITU UDAH NGEHINA GUE BANGED, LO ITU MAUNYA APA SIH KOK NGEHIANATIN Gue GITU (bahasa gue ke facebook, dan dia bukan cinta pertama gue, dia orang pertama yang udah menghianati gue habis-habisan!) *hek ^,
Terus masalah twitter gue mulai diolok-olok. Karena pada zaman segitu gue belom punya twitter, gue diolok-olokin mulu sih. Akhirnya gue bikin tuh, dan gue ketagihan lagi! Teruss teruus teruus dan pada akhirnya gue dibilang ngespam. Lo tau gak, following gue kan tadinya 1232~ ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~ ,, dan followers gue yang tadinya 102, menjadi 54-_- tapi gapapa,, twitter selalu menemanii (ʃƪ´▽`) ♥ (´▽`ʃƪ
Sekian dan terimakasih,,:)
Indonesian: Dia, Dan Derajat Yang Berbeda.
Gue punya mimpi untuk menikah dengan seorang artis yang jauh lebih tua, lebih dari 7 tahun, jauh. Gue optimis untuk menggapai mimpi gue ini, ya bismillah aja. Pertama kali liat, gue langsung merasa ada sesuatu yang aneh, spesial. Lalu mulai dari jejaring sosial, twitter. Rasa-rasanya orangnya baik. Yah bismillah semoga mimpi ini tercapai, dan itu bener-bener mimpi yang mau gue jadiin sebuah kenyataan, aamiin.
Andai orangnya tahu gue gak ngerti apa responnya, apa mungkin ogah-ogahan dan yang lainnya, yang penting gue berfikir untuk optimis dan selalu memikirkan hal-hal yang positif. Gue kalo ngeliat orang itu harus mengamati dari lama, semoga saja Allah meridhai, aamiin.
Gue punya mimpi kayak gini bukan hanya karena gue ngeliat orang yang ganteng dengan suara bagus, enggak. Yah pertama gue liat dari luarnya juga sih, tapi karena jarak panjang dan gue cuma bisa ngeliat dia dari seputar berita, mulai dari ciri-ciri psikis orang baik dan cara dia bicara, lumayan. Itu sesuatu yang bikin gue pengen tau lagi, pengen tau lagi dan tambah pengen tau, itu adalah sesuatu yang membuat orang lain tertarik.
Kelihatannya orangnya baek, yah mungkin aja pada kenyataannya juga sama. Gue sering menilai orang dari luar yang jelas pada pertama kali melihat, dan artis ini adalah orang yang menarik. Padahal gue biasanya bersikap biasa aja dengan artis-artis di indonesia. Aneh.
Mungkin derajat gue dan dia itu adalah yang berbeda. Mulai dari profesi dan hal lainnya. Tapi pada kenyataannya gue akan membuat sebuah buku, dan membuat sebuah persamaan antara gue dan dia. Dia nyanyi, artinya menyumbangkan bakatnya dan karya pada masyarakat. Gue nulis, sebuah hobby yang ditafsirkan dan karya yang diterjunkan pada masyarakat segala arah juga. Bismillah, kali ini gue emang bertekad,,,:)
Andai orangnya tahu gue gak ngerti apa responnya, apa mungkin ogah-ogahan dan yang lainnya, yang penting gue berfikir untuk optimis dan selalu memikirkan hal-hal yang positif. Gue kalo ngeliat orang itu harus mengamati dari lama, semoga saja Allah meridhai, aamiin.
Gue punya mimpi kayak gini bukan hanya karena gue ngeliat orang yang ganteng dengan suara bagus, enggak. Yah pertama gue liat dari luarnya juga sih, tapi karena jarak panjang dan gue cuma bisa ngeliat dia dari seputar berita, mulai dari ciri-ciri psikis orang baik dan cara dia bicara, lumayan. Itu sesuatu yang bikin gue pengen tau lagi, pengen tau lagi dan tambah pengen tau, itu adalah sesuatu yang membuat orang lain tertarik.
Kelihatannya orangnya baek, yah mungkin aja pada kenyataannya juga sama. Gue sering menilai orang dari luar yang jelas pada pertama kali melihat, dan artis ini adalah orang yang menarik. Padahal gue biasanya bersikap biasa aja dengan artis-artis di indonesia. Aneh.
Mungkin derajat gue dan dia itu adalah yang berbeda. Mulai dari profesi dan hal lainnya. Tapi pada kenyataannya gue akan membuat sebuah buku, dan membuat sebuah persamaan antara gue dan dia. Dia nyanyi, artinya menyumbangkan bakatnya dan karya pada masyarakat. Gue nulis, sebuah hobby yang ditafsirkan dan karya yang diterjunkan pada masyarakat segala arah juga. Bismillah, kali ini gue emang bertekad,,,:)
Indonesian: Anang dan Ashanti Menikah, Akat Nikah Seorang Remaja Dipending.
Pada saat hari Anang menikah di tahun 2012 ini, seorang remaja sedang bermimpi untuk menikahi seorang artis, namun pada kenyataannya saat ia sadar dengan realita, ia mendapati dirinya ada di depan TV menonton pernikahan Anang dan Ashanti, lalu mimpi pun pudar dan akhirnya ia menonton TV saja. Pernikahan Anak Remaja dengan Seorang Artis ini Pun (dalam mimpi) Dipending.
Indonesian: Sebuah Keindahan Di Balik Senyuman,:)
Selalu tersenyum, itu moto gue. Kalo lo? Gue tau lo gak punya moto. Punya nama aja kaga *justkid* gue selalu senyum-senyum sampe dikira orang gila. Ya gak gitu juga sih, senyum mulu mah gokil kali lo dikira kesurupan. Maksud gue disini adalah ketika lo menghadapi sesuatu dengan segala keikhlasan *aseek
Gue alim ah enggak juga, tapi masalah gue itu banyak jadi gue alhamdulillah tau gimana segala sesuatunya untuk dihadapi. Semuanya harus lo laluin dengan senyum, dan lo tau gak senyum itu bawa berkah? Gue juga dulunya gak percaya. Orang senyum gak punya tangan gak punya kaki gimana mau bawa-bawa, *bloon* tapi walaupun gak ada tangan dan kaki, senyum itu bisa membawa berkah yang terberat,,:)
Saat lo tersenyum, pikirin aja "ah masih banyak orang yang sengsara kebanding gue, masalah mah keciil" atau enggak lo harus liat banyak orang yang mendapatkan pengalaman lebih buruk daripada lo.
Senyum itu ibadah, dan lo harus selalu berfikir positif. Siapa sih yang suka sama orang yang fikirannya negatif terus, dan terus-terusan complain? Kalo gue mah udah gue tendang kali ke samudra atlantik, hiportemia aja sono di kutub selatan! *gaya githa gutawa*
SABAR dan itu kuncinya. Lo harus sabar dan ikhlas, kuatin iman! Ohya masalah senyum, saat lo berfikir masalah lo itu gampang, insyaAllah memang masalah lo itu jadi gampang. Percaya deh, itu masalah psikis dan gue gak bohong. Senyuman itu nolong banget,, dan jangan berfikiran yang aneh-aneh. Okay? Okelah pastinyaa,,haha yasudahlah semangat semuanyaa,,:)
Gue alim ah enggak juga, tapi masalah gue itu banyak jadi gue alhamdulillah tau gimana segala sesuatunya untuk dihadapi. Semuanya harus lo laluin dengan senyum, dan lo tau gak senyum itu bawa berkah? Gue juga dulunya gak percaya. Orang senyum gak punya tangan gak punya kaki gimana mau bawa-bawa, *bloon* tapi walaupun gak ada tangan dan kaki, senyum itu bisa membawa berkah yang terberat,,:)
Saat lo tersenyum, pikirin aja "ah masih banyak orang yang sengsara kebanding gue, masalah mah keciil" atau enggak lo harus liat banyak orang yang mendapatkan pengalaman lebih buruk daripada lo.
Senyum itu ibadah, dan lo harus selalu berfikir positif. Siapa sih yang suka sama orang yang fikirannya negatif terus, dan terus-terusan complain? Kalo gue mah udah gue tendang kali ke samudra atlantik, hiportemia aja sono di kutub selatan! *gaya githa gutawa*
SABAR dan itu kuncinya. Lo harus sabar dan ikhlas, kuatin iman! Ohya masalah senyum, saat lo berfikir masalah lo itu gampang, insyaAllah memang masalah lo itu jadi gampang. Percaya deh, itu masalah psikis dan gue gak bohong. Senyuman itu nolong banget,, dan jangan berfikiran yang aneh-aneh. Okay? Okelah pastinyaa,,haha yasudahlah semangat semuanyaa,,:)
Sabtu, 12 Mei 2012
Indonesian: Gagal Nonton Launching Album The Adlys yang ke-dua, Seorang Remaja Kabur Dari Rumah
Seorang remaja yang diduga perempuan mirip laki-laki atau bahkan orangtuanya tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan *duar* kabur dari rumahnya, bersama orangtua dan adik-adiknya. Dilaporkan hilang kepada berita dan polisi, tapi tidak tahu siapa yang melaporkannya *nahloh* remaja itu mengajak orangtuanya kabur dari segala keindahan rumah dan pergi ke suatu tempat yang jauh.
FAKTA: Silaturahim ke rumah saudara sudah mereka rencanakan dari lahir, dan gagal nonton The Adlys bukan merupakan sebuah depresi besar. Keluarga itupun kembali ke rumah dengan selamat pukul sekian, jam sekian, dan pada kenyataannya sang remaja itu adalah gue *!!! Щ(ºДºщ)*
FAKTA: Silaturahim ke rumah saudara sudah mereka rencanakan dari lahir, dan gagal nonton The Adlys bukan merupakan sebuah depresi besar. Keluarga itupun kembali ke rumah dengan selamat pukul sekian, jam sekian, dan pada kenyataannya sang remaja itu adalah gue *!!! Щ(ºДºщ)*
Indonesian: Seorang atlete Menemukan Gue di Jejaring Sosial hanya berdasarkan NAMA?! Щ(ºДºщ)
Lo denger? Enggak kan?? Bagus. Soalnya kalo lo udah tau duluan gak seru jadinya pas gue cerita. *sok serius*
Gue atlete, tapi lo ga boleh tau gue atlete apa dan nama gue siapa.
Gue gaul, makanya punya facebook *cih!!* tapi gue gatau cara gunainnya gimana *ajiir! Щ(ºДºщ)* boong deng, gue tau facebook dan gue tau gimana cara maennya, karena gue anak gaul *cih!* cuma gaptek *-_-*
Nih, gue atlete ternama (karena gue punya nama), facebook gue itu gak pake nama asli, karena gue ini orangnya misterius *WOPS* tapi ada orang yang bisa menemukan gue dengan mudahnya setelah dua hari gue berdiri nongkrong di sebuah pertandingan olahraga.
Gue inget, berdasarkan ceritanya dan bagaimana gerak-gerik gue yang sok sok misterius itu, waktu itu gue berdiri di depan kamarmandi *euuyyy!* niatnya sih ngintip................woy! gak deng gue gak bermaksud untuk ngintip, hehe cuma berdiri aja kaya orang bego yang bener-bener misterius.
Gue berdiri mengenakan jaket berseragam dari tim gue, dan di sebelah kanan atau sebelah kiri yang jelas gak diatas gak dibawah, dan letaknya ada di jaket gue itu ada nama! *nama siapa?* guelah dudul, itu jaket gue onyong (ง`☐´)ง ,
Gak tau kenapa rasanya ada yang aneeeh gituu waktu gue ada di depan kamar mandi itu *padahal gak ngerasa apa-apa* yah maksud gue sok-sok dramatis gitu hohoho. Lalu dua hari kemudian, waktu itu masih zaman-zamannya maen facebook, gue diterror dengan kebingungannya lewat inbox, dengan seseorang yang ngeadd gue *gak di confirm* dan misterius. Gue beramsumsi dia ngefans sama gue, gayanya yang sok-sok misterius ke gue itu adalah salahsatu bukti kalo dia itu fans gue banget, gaya gue aja ditiru. *uhuuuyy maaksi bradeeerr (ʃƪ´▽`) ♥ (´▽`ʃƪ *hoeks
Akhirnya lewat inbox gue nanya-nanya (sebenernya hal-hal kayak gini seharusnya gak boleh dibales, tapi alasan gue bales adalah: 1. dia nerror gue beberapa massages. 2. Gue gak ada temen jadinya gue bales *bloon) kenapa dia bisa tau gue hanya berdasarkan nama? Oh gue tau sekarangg,, ternyata ya, di jaket gue itu di belakangnya kan ada nama team gue, temen-temen gue itu suka naruh nama team di belakang nama facebook. Dia cukup cari nama team di search FB, dan pada akhirnya menemukan segerombol temen-temen gue disitu. Dia nanya disalahsatu temen, dan temen gue itu dengan betapa bego atau terhipnotisnya dia kasih FB gue, dan akhirnya selesai sudah.
T A M A T
wahahaha gak gitu juga sih ceritanya tapi sudahlah,see yaa,,,:)
Gue atlete, tapi lo ga boleh tau gue atlete apa dan nama gue siapa.
Gue gaul, makanya punya facebook *cih!!* tapi gue gatau cara gunainnya gimana *ajiir! Щ(ºДºщ)* boong deng, gue tau facebook dan gue tau gimana cara maennya, karena gue anak gaul *cih!* cuma gaptek *-_-*
Nih, gue atlete ternama (karena gue punya nama), facebook gue itu gak pake nama asli, karena gue ini orangnya misterius *WOPS* tapi ada orang yang bisa menemukan gue dengan mudahnya setelah dua hari gue berdiri nongkrong di sebuah pertandingan olahraga.
Gue inget, berdasarkan ceritanya dan bagaimana gerak-gerik gue yang sok sok misterius itu, waktu itu gue berdiri di depan kamarmandi *euuyyy!* niatnya sih ngintip................woy! gak deng gue gak bermaksud untuk ngintip, hehe cuma berdiri aja kaya orang bego yang bener-bener misterius.
Gue berdiri mengenakan jaket berseragam dari tim gue, dan di sebelah kanan atau sebelah kiri yang jelas gak diatas gak dibawah, dan letaknya ada di jaket gue itu ada nama! *nama siapa?* guelah dudul, itu jaket gue onyong (ง`☐´)ง ,
Gak tau kenapa rasanya ada yang aneeeh gituu waktu gue ada di depan kamar mandi itu *padahal gak ngerasa apa-apa* yah maksud gue sok-sok dramatis gitu hohoho. Lalu dua hari kemudian, waktu itu masih zaman-zamannya maen facebook, gue diterror dengan kebingungannya lewat inbox, dengan seseorang yang ngeadd gue *gak di confirm* dan misterius. Gue beramsumsi dia ngefans sama gue, gayanya yang sok-sok misterius ke gue itu adalah salahsatu bukti kalo dia itu fans gue banget, gaya gue aja ditiru. *uhuuuyy maaksi bradeeerr (ʃƪ´▽`) ♥ (´▽`ʃƪ *hoeks
Akhirnya lewat inbox gue nanya-nanya (sebenernya hal-hal kayak gini seharusnya gak boleh dibales, tapi alasan gue bales adalah: 1. dia nerror gue beberapa massages. 2. Gue gak ada temen jadinya gue bales *bloon) kenapa dia bisa tau gue hanya berdasarkan nama? Oh gue tau sekarangg,, ternyata ya, di jaket gue itu di belakangnya kan ada nama team gue, temen-temen gue itu suka naruh nama team di belakang nama facebook. Dia cukup cari nama team di search FB, dan pada akhirnya menemukan segerombol temen-temen gue disitu. Dia nanya disalahsatu temen, dan temen gue itu dengan betapa bego atau terhipnotisnya dia kasih FB gue, dan akhirnya selesai sudah.
T A M A T
wahahaha gak gitu juga sih ceritanya tapi sudahlah,see yaa,,,:)
Indonesian: Blogger, jadi tempat curhat?
Sesuatu yah, blogger menjadi tempat curhat beberapa kalangan remaja (" ̄△ ̄), tapi diakui mereka kreatif saat mencurahkan kisah-kisah mereka. Beberapa kalangan remaja menuliskannya berbentuk sebuah cerita, tapi beberapa remaja lain yang dikatakan alay mungkin lebih frontal, dan bahasanya; m3rEk4 mEnyYyatUqaN dan tralala lainnya, mereka menyatukan angka dengan huruf menjadi sederet kalimat yang membingungkan Щ(ºДºщ)
Tapi sebenarnya saya kurang mendukung jika mereka mencurahkan isi hati di jejaring sosial ini. Kenapa? Karena orang lain bisa saja mudah melihat psikis mereka yang sedang rendah. Seharusnya mereka di jejaring sosial selalu memasang senyum dan terlihat senang, atau biasa dan misterius sehingga orang lain tidak tahu apa artinya.
Beberapa kalangan remaja tidak tahu betapa berbahayanya jejaring sosial di dunia, dan bagaimana kehidupan dunia di luar tangan mereka. Membahayakan, dan itu berhubungan dengan bagaimana kita menyikapinya di jejaring sosial. Itu sebuah hal yang mengerikan dan pada kenyataannya memang sedikit mengerikan. Yah, hanya memberi saran untuk berhat-hati terhadap segala sesutaunya, pikirlah dua kali. Semangat untuk remaja-remaja indonesia,, pakailah huruf dan kata-kata indonesia yang baik dan benar, sekian terimakasih, salam sejahtera,,,:)
Rabu, 09 Mei 2012
Mau tau? Temen gue ngefans banget ama jupe!!
Gue ngeliat temen gue, dia mau bikin blogger, judulnya SUJU (SUperJUpe) itu adalah blogger kelas gue. Entah siapa yang gila, gue yang ngeliat dia bikin kaya gitu malah mendukung dan mensuport, malah gue bikin poster buat orang-orang ngefollow itu account blogger! *bercanda* eh tapi serius deh! Temen gue ini lagi bingung-bingung,,dia ga ngerti blogger gimana. Pilih themes aja ribut-_- tapi gapaa, semoga blogger kelas gue itu sukses! Follow ya, superjupe.blogspot.com follow doong! Apa sih salahnya ngebantu temen gue yang gak jelas yang bertujuan tidak ada tujuan dan hal lainnya, yang agak-agak tapi semangat dia besar banget buat kelas gue!! Liat, dia aja bikin blogger dengan penuh semangat!*tapi gatau buat apaan* yah sudahlah. Semoga blog kelas gue itu jadi sesuatu yang berharga buat gue nantri huahaha..
Cerita satulagi, tentang pariborn
Kalo lo mau tau seberapa ngeselinnya pariborn tu udah bener-bener deh bener-bener bener-bener gue capek ngadepinyya,,, capek ati euy-_- dengerin deh, masa pas temen gue kencing di bajunya dia, dia tereak dan marah-marah *plak* padahal kalo dilihat-lihat temen gue itu gak sengaja looohh *ini fiksi!
Segala macam masalah gue lalui bersama pariborn itu, dengan dia marah-marah ga jelas dan segala macamnya. Yah tapi karena gue adalah orang yang selalu berpikir positip *beuuh*pada akhirnya ya gak ada masalagh hahaha yah terima aja die apa adanya, walaupun kadang-kadang makan ati, bikin aja lucu-_-
Segala macam masalah gue lalui bersama pariborn itu, dengan dia marah-marah ga jelas dan segala macamnya. Yah tapi karena gue adalah orang yang selalu berpikir positip *beuuh*pada akhirnya ya gak ada masalagh hahaha yah terima aja die apa adanya, walaupun kadang-kadang makan ati, bikin aja lucu-_-
Indonesian: DIalah Guru Pakriborn-_-
10-May-2012
Kalo lo mau tau salah satu guru gue yang bener-bener bener-bener,, namanya Pak Riborn. Dia guru cowok,agak kecil gitu, bilang aja kurus, dia bener-bener ngeselin saat mengerjakan soal komputer-_- contohnya sekarang ini, rasanya gue pengen banting komputer!*timpuk sendal* tapi niat buruk gue itu akhirnya dikurungkan, karena gue orang baek *gabruk
EIT! *Eh It Tunggu!* dia agak baek loh,, dia sabar mau ngajarin kelas gue yang ngomel mulu. Ya emang dia ngeselin sih dalam tehnik pengajaran, tapi menurut gue kesabarannya terlatih. Yah kelas gue rame-rame gini juga karena pengen ngerti. Ambil sisi positifnya aja, kelas gue itu tempat dia mencari hikmah dalam segala masalah, juga mendapatan kesabaran. Semangat pak riborn!!!!,,,:)
-------->> gue ngetik di sebelah bapak itu,wk.
Kalo lo mau tau salah satu guru gue yang bener-bener bener-bener,, namanya Pak Riborn. Dia guru cowok,agak kecil gitu, bilang aja kurus, dia bener-bener ngeselin saat mengerjakan soal komputer-_- contohnya sekarang ini, rasanya gue pengen banting komputer!*timpuk sendal* tapi niat buruk gue itu akhirnya dikurungkan, karena gue orang baek *gabruk
EIT! *Eh It Tunggu!* dia agak baek loh,, dia sabar mau ngajarin kelas gue yang ngomel mulu. Ya emang dia ngeselin sih dalam tehnik pengajaran, tapi menurut gue kesabarannya terlatih. Yah kelas gue rame-rame gini juga karena pengen ngerti. Ambil sisi positifnya aja, kelas gue itu tempat dia mencari hikmah dalam segala masalah, juga mendapatan kesabaran. Semangat pak riborn!!!!,,,:)
-------->> gue ngetik di sebelah bapak itu,wk.
Minggu, 06 Mei 2012
Indonesian: Kawan dan sebuah kisah,:)
Kawan, kau hadirkan segala kisah indah yang akan selalu ku kenang. Berbagi pengalaman sikap yang tak terduga, tanpamu hidupku tak berwarna, dengan berbegai kisah di dalamnya. Berbagai macam emosi membara, dengan penuh makna tak terasa menjadi sebuah cerita. Jika ku tuliskan perjalananku denganmu, percayalah serangkaian kisah menjadi satu, lembaran-lembaran berharga yang saat ini bisa membuatku berteriak marah, menangis, atau tertawa, tapi tetaplah percaya pada suatu hari nanti saat ku kenang kembali dan saat ku buka lagi lembaran cerita itu, aku akan tersenyum.
Dan sebuah kisah menjadi pengalaman hidup berharga..
Aku mengingat lagi cerita, yang takkan pernah terlupa. Saling mengulurkan tangan walau kadang terlepas. Saat kita tertawa, atau dalam hujan badai kita menangis. Saat saling bermimpi, dan beri dukungan harapan. Atau, saling membuat kesalahan, amarah hadir kita berperang. Masalah tak akan pernah berhenti datang, ya, tapi begitu juga dengan tawa.
Sahabat, dan suatu keajaiban akan selalu bersama. Semua terjadi dan kita masih saling bertatapan. Kali ini benar-benar takut, maka tataplah aku, genggam tanganku, jangan biarkan kita berpisah. Beri aku jawaban mengapa kita kelak bermusuhan, jika memang ada sesuatu yang bisa memisahkan kita. Seringkali kita dapatkan permasalahan, tapi ingatlah akan satu hal, kita juga sering tertawa. Walau sebelah bumi hancur, ingin sekali aku mengingatmu dalam mimpiku, dalam lariku saat aku meminta bantuan. Ingin sekali ku bawa kau denganku, dengan kisah-kisah selalu bersama. Menggapai berbagai mimpi dan kebahagiaan, itulah tujuan kita.
Aku mengingat lagi cerita, yang takkan pernah terlupa. Saling mengulurkan tangan walau kadang terlepas. Saat kita tertawa, atau dalam hujan badai kita menangis. Saat saling bermimpi, dan beri dukungan harapan. Atau, saling membuat kesalahan, amarah hadir kita berperang. Masalah tak akan pernah berhenti datang, ya, tapi begitu juga dengan tawa.
Sahabat, dan suatu keajaiban akan selalu bersama. Semua terjadi dan kita masih saling bertatapan. Kali ini benar-benar takut, maka tataplah aku, genggam tanganku, jangan biarkan kita berpisah. Beri aku jawaban mengapa kita kelak bermusuhan, jika memang ada sesuatu yang bisa memisahkan kita. Seringkali kita dapatkan permasalahan, tapi ingatlah akan satu hal, kita juga sering tertawa. Walau sebelah bumi hancur, ingin sekali aku mengingatmu dalam mimpiku, dalam lariku saat aku meminta bantuan. Ingin sekali ku bawa kau denganku, dengan kisah-kisah selalu bersama. Menggapai berbagai mimpi dan kebahagiaan, itulah tujuan kita.
Rabu, 02 Mei 2012
Indonesian: Mengharapkan dukungan!
Aku berharap bukuku yang semoga saja bisa terbit bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Aku mengharapkan dukungan untuk maju dan terus berkarya. Sebetulnya butuh inspirasi, semoga saja bagaimanpun kondisinya bisa terus maju dan bersemangat,,
Kepada seseorang, seorang artis yang selalu membuat saya bersemangat menjalankan sesuatu. Tidak saling kenal, hanya sebatas layar., Tapi ingin rasanya berterimakasih padanya yang selalu membuatku selalu ingin menggapai impianku.
Yang jelas orangnya cowok, cakep, penyanyi, umurnya mungkin 20 keatas. Gatau kenapa begitu ngeliat langsung suka, padahal pertamanya gatau dia siapa. Pertama priksa twitternya. kelihatannya orangnya ramah. Periksa di media, orangnya juga gaul, kelihatan baik, pengen deket, tapi seolah jadi impian gak nyata. Yah,,, aku gatau orang itu suka baca novel atau semacamnya apa enggak, tapi kalau iya, aku berharap dia bisa baca bukuku berikutnya. tahaaan,,:)
Indonesian: Book1
Tanggal 03 Mei 2012,
Sibuk membuat skripsi buku, berharap selanjutnya bisa diterbitin. Setelah sekian banyaknya cerita yang dipending, dan pada akhirnya ke-cancel, kali ini alhamdulillah bisa membuat cerita yang ditekuni, dan semoga saja bisa menghasilkan sebuah karya berisi cerita-cerita menarik dan membentuk "buku", aamiin,,,:)
Selain membuat skripsi buku, ada tujuan juga menuangkan beberapa kata ke blogger yang sudah lama tidak diaktifkan ini. Iseng saja, setidaknya untuk kerja sampingan kalau-kalau bosen nulis di M-Word untuk cerita. Sebagian unek-unek agar semangat bangkit akhirnya dituliskan di twitter. Sekarang berniat aktif di jejaring sosial, menghilangkan jenuh dan tetap melanjutkan karya! Mengejar impian! Semangat! :)
Indonesian: Blogger 02Mei2012
Bikin blogger dari tahun berapa, tapi hampir gak pernah jalan. Yah, berdoa aja semoga setelah ini blog terisi penuh setelah bulan Mei, sekalian untuk buat skripsi buku berikutnya. Doain ya,, bismillahirahmanirahim,,:)
Kamis, 29 Maret 2012
Go Home 1 (Ind Sub)
Dan dalam waktu beberapa tahun, aku bisa bergerak dan mengetahui kebenaran-----
Aku Zawn, dari
Vinceryn. Vinceryn, sebuah negara yang terkenal dengan kekuatan militer. Aku
adalah remaja berumur 15 tahun sekarang ini. 2 tahun lalu, Vinceryn diserang
oleh Gamoran. Perang antara dua negara besar itu berlangsung sangat lama, dan
pada akhirnya Vinceryn jatuh dan kalah. Aku adalah salahsatu orang yang lolos.
Banyak masyarakat Vinceryn yang mati atau dijadikan buruh. Jika mereka tidak
ingin menyerah, nyawa mereka akan melayang. Begitulah cara kerja Gamoran.
Mengancam setiap warga dengan hukuman mati.
Aku
tidak senang dengan cara kerja mereka, Gamoran. Masyarakat Gamoran terlalu
naif. Aku yakin mereka akan mendapatkan karma. Seharusnya mereka tahu apa arti
kematian. Seharusnya mereka tahu apa itu rasa sakit. Untuk apa mereka merebut
Vinceryn? Mereka hanya ingin menambah kekayaan.
Aku
tidak benar-benar menganggap kekayaan adalah segala-galanya, walaupun pada
kenyataannya, aku membutuhkan uang. Sekarang aku tinggal di hutan dengan
beberapa pasukan tersembunyi. Presiden Vinceryn telah dibunuh satu setengah
tahun lalu, saat kedua negara itu hendak bernegosiasi. Aku butuh
dukungan. Kelompok kami masih berupa kelompok kecil, dan hanya terdiri dari
beberapa orang. Beberapa orang hanya orang biasa, bukan petarung. Dan beberapa
orang adalah temanku.
"Zawn,
kita tidak bisa terus berdiam diri seperti ini terus." Ujar Blandon, teman
lamaku. Ia menepuk pundakku dan tersenyum. "Berapa lama kau mau terus
menunggu?" Dia menatapku.
"Menunggu
apa? Aku tidak menunggu apapun." Aku mengalihkan pandanganku.
"Aku
tahu kau masih berharap pada Irene." Kata-kata itu mengejutkan aku.
"Jangan
bergurau! Aku tidak menunggunya!" Aku membantah, walaupun aku tahu itu
benar.
"Semua
orang sudah tahu, kau tidak perlu menyembunyikan ini lagi."
"Diam!
Aku sudah tahu dia baik-baik saja!"
"Bisakah
kau bersikap dewasa? Aku tidak ingin berdebat." Tatapan Blandon menjadi
tajam.
"Tapi
aku..." BRAK! Aku terjatuh ke tanah, Blandon memukulku. "Apa yang
kau..."
"Kau
khawatir!"
Blandon menatap tajam
ke arah ku, aku tidak membalas tatapannya. Aku tahu dia benar. Aku tahu aku
masih berharap Irene masih hidup. Kenyataan yang pahit jika aku mengetahui
seseorang yang aku sayang ternyata telah tiada. Ini terlalu menyakitkan
untuk disaksikan. Aku tidak ingin menganggap itu sebuah kebenaran, tapi aku
juga tidak bisa mengelak. Aku tidak bisa menyingkirkan kenyataan, kecuali suatu
keajaiban terjadi.
"Thanks,
Blandon. Dan aku minta maaf." Aku menunduk.
"Itulah
gunanya teman. Aku senang kau dapat mengerti." Dia tersenyum.
"Sekarang jelaskan padaku."
"Apa?"
"Mengapa
kau tidak membuat rencana? Untuk menyerang Gamoran? Negara itu sudah membunuh
rakyat kita terlalu banyak!" Seru Blandon.
"Aku
sudah membuatnya."
Blandon
tersentak. "Mengapa kau tidak memberitahukan itu padaku?! Mengapa kau tidak
memberi tahukan kepada yang lain?! Aku pikir kau percaya padaku! Dan..."
"Cukup,
Blandon. Aku sudah merencanakan itu, tapi aku punya alasan untuk tidak memberi
tahu kalian di waktu sekarang."
"Apa
alasanmu?" Dia menatapku, aku balas menatapnya.
"Dengar,
masalah ini hanya aku dan kau yang tahu. Alasan mengapa aku diam dalam dua
tahun, walaupun aku sudah memiliki beberapa rencana, karena pertama, pasukan
kita terlalu sedikit! Kedua, aku tahu banyak orang Vinceryn yang bersembunyi di
daerah Gamoran, dan akan siaga untuk membantu kita! Maka aku menunggu waktu
sampai aku bisa menghubungi mereka. Ketiga, penjagaan Gamoran sekarang masih
terlalu ketat. Kita butuh waktu untuk mengelabui mereka! Dan..."
"Dan
yang terakhir, kau masih menunggu Irene." Blandon menatapku, tatapannya
sedikit berubah menjadi halus. "Kau tidak akan tahu keadaannya jika kau
tidak maju."
"Aku
tahu." Aku mengangguk. "Kita punya waktu setengah tahun."
"Ya,
lebih lama pun, aku bisa menunggu."
"Aku
tidak. Aku harus tahu keberadaan Irene."
"Kau
harus siap dengan kenyataan."
"Aku
tahu. Tuhan melindungiku."
"Aku
senang kau berpikir positif." Blandon menepuk punggungku dan pergi.
Memimpin pasukan-pasukan kecil, yang lolos dari serangan Gamoran. Negara jahat yang
sudah menghancurkan Vinceryn. Hanya sedikit orang yang lolos dari serangan
mereka. Yang ikut bersama diriku, hanya ada 27 orang. Aku tidak tahu harus
berbuat apa pada orang-orang ini, dan 2 tahun lalu, aku memutuskan mengajari
mereka bagaimana cara menggunakan senjata. Kami hanya memiliki sedikit pedang,
pisau, tidak ada senjata yang lain.
Aku hanya seorang
remaja. Aku memiliki 2 teman laki-laki seumuran ku, mereka ahli pedang, sama
sepertiku. Aku meminta mereka untuk mengajari orang-orang awam yang masih hidup
untuk bertarung. Dua temanku adalah Blandon dan Sarviat. Mereka adalah teman lamaku
saat aku masih hidup di Vinceryn, dan sekarang mereka menjadi teman
seperjuangan.
"Pagi Zawn!"
Sarviat menyapaku.
"Pagi, kawan! Bagaimana malam mu?" Tanyaku.
"Sudah jelas seperti biasa!" Dia tersenyum. "Semalam, aku tidak sengaja melihatmu sedang berbincang-bincang dengan Blandon! Jika aku boleh tahu, apa yang kau bicarakan?"
Aku menatapnya. "Aku tanya kau, apakah kau tidak sengaja melihat, atau kau memang mencari tahu?"
Sarviat nyengir. "Oh, kau sudah tahu. Aku memang ingin tahu." Dia tertawa.
"Pagi, kawan! Bagaimana malam mu?" Tanyaku.
"Sudah jelas seperti biasa!" Dia tersenyum. "Semalam, aku tidak sengaja melihatmu sedang berbincang-bincang dengan Blandon! Jika aku boleh tahu, apa yang kau bicarakan?"
Aku menatapnya. "Aku tanya kau, apakah kau tidak sengaja melihat, atau kau memang mencari tahu?"
Sarviat nyengir. "Oh, kau sudah tahu. Aku memang ingin tahu." Dia tertawa.
"Aku tahu
kebiasaanmu!" Aku nyengir. "Yah, aku hanya membicarakan tentang
rencanaku." Aku menatapnya.
"Kau tidak memberi tahuku?"
"Aku juga tidak memberi tahu Blandon."
"Kenapa?"
"Karena rencana ini belum sempurna."
"Kau tidak memberi tahuku?"
"Aku juga tidak memberi tahu Blandon."
"Kenapa?"
"Karena rencana ini belum sempurna."
Aku meninggalkan
Sarviat sendiri dan pergi ke hutan untuk berpikir. Aku masih mencari Irene, dan
aku bingung untuk hidup. Gamoran akan membunuh setiap warga Vinceryn. Aku tahu
itu. Saat aku muncul di tengah kota, semua akan menjadi sia-sia. Aku tidak akan
pernah tahu kebenaran tentang Irene, dan aku tidak bisa hidup lebih lama.
"Zawn!" Seseorang memanggilku. Saat aku menoleh, seorang pria lebih tua sedang berlari ke arahku.
"Ada apa?" Aku memandangnya.
"Aku menemukan sekelompok warga Vinceryn yang hilang!" Ujarnya terengah-engah. Ini mengejutkanku, apakah Irene ada disana? Apakah orang-orang itu dapat bertarung?
"Dimana mereka?!" Semangatku meledak.
"Belahan bukit lain! Aku hanya melihat beberapa orang yang aku kenali dulu di Vinceryn, setidaknya aku ingat wajah-wajah mereka! Aku belum berani untuk menyapa warga disana, seperti katamu, aku harus melapor jika melihat orang awam." Dia tersenyum, kebahagiaan terpancar dari wajahnya walaupun ia terlihat lelah.
"Oh, terimakasih, uhm.. Maaf aku lupa namamu?"
"Cladyan. Aku hanya 5 tahun di atas umurmu!"
"Oh oke, maaf aku melupakan namamu, tapi sudahlah! Tunjukan aku jalannya!" Aku berlari ke pondok dan mengambil tas selempangku.
"Zawn! Mau kemana kau?"
"Memeriksa daerah sekitar! Sarviat! Kau ikut aku! Blandon! Jaga perdesaan!" Aku berseru riang. Blandon dan Sarviat saling bertatap mata dengan bingung, kemudian Sarviat pergi menyusulku dan Blandon hanya duduk kebingungan.
"Apa rencanamu?" Tanya Sarviat.
"Diamlah! Cladyan menemukan beberapa warga kita!"
"Oh?" Sarviat baru menyadari, ada Cladyan di depannya. "Maaf Cladyan, aku tidak melihatmu."
"Oh tak apa!" Cladyan nyengir dan berlari ke arah bukit, kemudian saat sampai pada puncak, ia menunduk.
"Ada apa?" Tanya Sarviat.
"Disinilah tempat aku melihat mereka! Jika kalian ingin mengamati, amatilah dari sini!" Dia berbisik. Sarviat dan aku mengikuti langkahnya.
"Kau benar." Sarviat terkagum.
"Tunggu apa lagi?" Aku meluncur ke bawah bukit, Sarviat dan Cladyan hanya melihatku dari atas dan melongo.
"Kau curang!" Sarviat tertawa dan mengikutiku, begitu juga Cladyan. Aku meluncur dan berlari.
BRAK!
"Hei, hati-hati!" Aku menabrak seseorang.
"Oh, aku benar-benar minta maaf, aku..." Eh?
"Zawn!"
"Marry!"
Orang itu memelukku, ia adikku. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya!" Aku tertawa bersamanya. Lama-lama dia menangis dan memelukku lagi. "Ada apa?" Tanyaku heran.
"Aku pikir kau tewas, oleh orang-orang itu!" Dia menangis lebih kencang.
"Jangan bergurau. Aku ada disini sekarang." Aku tersenyum.
"Kini aku menjadi warga Gamoran dengan terpaksa!" Serunya. "Aku... aku tidak bermaksud untuk menghianati negara! Aku..."
"Tidak apa-apa.. Marry, tidak apa-apa. Aku senang kau selamat."
"Terimakasih, kak.." dia menangis lagi. Cladyan dan Sarviat akhirnya menyusulku, dan memberi salam pada Marry.
"Banyak orang yang terbunuh." Marry mengusap air matanya. "Orang yang tidak mau mengalah dan dijadikan budak oleh mereka, akan kehilangan nyawa. Semua memperebutkan harta! Bahkan yang menjadi warga mereka, telah menjadi miskin dan tidak punya apa-apa!" Serunya. Aku mengusap air matanya.
"Bisakah kau ajak kami ke pondok dan mendengar ceritamu?"
Marry terdiam sejenak.
"Aku... Aku akan bercerita di pondok... Tapi,.."
"Tapi apa, Marry?"
"Tapi kau akan mendengar kabar buruk, Zawn."
(To Be Continued)
Go Home 2(Eng Sub)
I was the leader of the small forces, escaped the attack Gamoran. Evil that's destroying the country Vinceryn. Only a few people who escaped from their attacks. Who was with me, there were only 27 people. I don't know what to do with these people, and two years ago, I decided to teach them how to use weapons. We only have a few swords, knives, no weapons other.I'm just a teenager. I have two male friends my age, they are expert sword, just like me. I asked them to teach the lay people who are still alive to fight. Two of my friends are Blandon and Sarviat. They are my old friends when I was living in Vinceryn, and now they are a fellow soldier."Morning Zawn!" Sarviat greeted me.
"Good morning, friend! How your nights?" I asked.
"It's clear as ever!" He smiled. "Last night, I accidentally saw you were talking with Blandon! If I allowed to know, what are you talking about?"
I looked at him. "I ask you, you don't accidentally to see, or did you find out?"
Sarviat grin. "Oh, you already know. I really want to know." He laughed."I know your habit!" I grinned. "Well, I'm just talking about my plans." I looked at him.
"You didn't tell me?"
"I didn't tell Blandon too."
"Why?"
"Because of this plan is not perfect. Not yet."
"Good morning, friend! How your nights?" I asked.
"It's clear as ever!" He smiled. "Last night, I accidentally saw you were talking with Blandon! If I allowed to know, what are you talking about?"
I looked at him. "I ask you, you don't accidentally to see, or did you find out?"
Sarviat grin. "Oh, you already know. I really want to know." He laughed."I know your habit!" I grinned. "Well, I'm just talking about my plans." I looked at him.
"You didn't tell me?"
"I didn't tell Blandon too."
"Why?"
"Because of this plan is not perfect. Not yet."
I left Sarviat own and go into the woods to think. I'm still looking for Irene, and I was confused for a living. Gamoran will kill every citizen Vinceryn. I know it. When I showed up in the middle of the city, all would be in vain. I will never know the truth about Irene, and I couldn't live much longer.
Langganan:
Komentar (Atom)