Dan dalam waktu beberapa tahun, aku bisa bergerak dan mengetahui kebenaran-----
Aku Zawn, dari
Vinceryn. Vinceryn, sebuah negara yang terkenal dengan kekuatan militer. Aku
adalah remaja berumur 15 tahun sekarang ini. 2 tahun lalu, Vinceryn diserang
oleh Gamoran. Perang antara dua negara besar itu berlangsung sangat lama, dan
pada akhirnya Vinceryn jatuh dan kalah. Aku adalah salahsatu orang yang lolos.
Banyak masyarakat Vinceryn yang mati atau dijadikan buruh. Jika mereka tidak
ingin menyerah, nyawa mereka akan melayang. Begitulah cara kerja Gamoran.
Mengancam setiap warga dengan hukuman mati.
Aku
tidak senang dengan cara kerja mereka, Gamoran. Masyarakat Gamoran terlalu
naif. Aku yakin mereka akan mendapatkan karma. Seharusnya mereka tahu apa arti
kematian. Seharusnya mereka tahu apa itu rasa sakit. Untuk apa mereka merebut
Vinceryn? Mereka hanya ingin menambah kekayaan.
Aku
tidak benar-benar menganggap kekayaan adalah segala-galanya, walaupun pada
kenyataannya, aku membutuhkan uang. Sekarang aku tinggal di hutan dengan
beberapa pasukan tersembunyi. Presiden Vinceryn telah dibunuh satu setengah
tahun lalu, saat kedua negara itu hendak bernegosiasi. Aku butuh
dukungan. Kelompok kami masih berupa kelompok kecil, dan hanya terdiri dari
beberapa orang. Beberapa orang hanya orang biasa, bukan petarung. Dan beberapa
orang adalah temanku.
"Zawn,
kita tidak bisa terus berdiam diri seperti ini terus." Ujar Blandon, teman
lamaku. Ia menepuk pundakku dan tersenyum. "Berapa lama kau mau terus
menunggu?" Dia menatapku.
"Menunggu
apa? Aku tidak menunggu apapun." Aku mengalihkan pandanganku.
"Aku
tahu kau masih berharap pada Irene." Kata-kata itu mengejutkan aku.
"Jangan
bergurau! Aku tidak menunggunya!" Aku membantah, walaupun aku tahu itu
benar.
"Semua
orang sudah tahu, kau tidak perlu menyembunyikan ini lagi."
"Diam!
Aku sudah tahu dia baik-baik saja!"
"Bisakah
kau bersikap dewasa? Aku tidak ingin berdebat." Tatapan Blandon menjadi
tajam.
"Tapi
aku..." BRAK! Aku terjatuh ke tanah, Blandon memukulku. "Apa yang
kau..."
"Kau
khawatir!"
Blandon menatap tajam
ke arah ku, aku tidak membalas tatapannya. Aku tahu dia benar. Aku tahu aku
masih berharap Irene masih hidup. Kenyataan yang pahit jika aku mengetahui
seseorang yang aku sayang ternyata telah tiada. Ini terlalu menyakitkan
untuk disaksikan. Aku tidak ingin menganggap itu sebuah kebenaran, tapi aku
juga tidak bisa mengelak. Aku tidak bisa menyingkirkan kenyataan, kecuali suatu
keajaiban terjadi.
"Thanks,
Blandon. Dan aku minta maaf." Aku menunduk.
"Itulah
gunanya teman. Aku senang kau dapat mengerti." Dia tersenyum.
"Sekarang jelaskan padaku."
"Apa?"
"Mengapa
kau tidak membuat rencana? Untuk menyerang Gamoran? Negara itu sudah membunuh
rakyat kita terlalu banyak!" Seru Blandon.
"Aku
sudah membuatnya."
Blandon
tersentak. "Mengapa kau tidak memberitahukan itu padaku?! Mengapa kau tidak
memberi tahukan kepada yang lain?! Aku pikir kau percaya padaku! Dan..."
"Cukup,
Blandon. Aku sudah merencanakan itu, tapi aku punya alasan untuk tidak memberi
tahu kalian di waktu sekarang."
"Apa
alasanmu?" Dia menatapku, aku balas menatapnya.
"Dengar,
masalah ini hanya aku dan kau yang tahu. Alasan mengapa aku diam dalam dua
tahun, walaupun aku sudah memiliki beberapa rencana, karena pertama, pasukan
kita terlalu sedikit! Kedua, aku tahu banyak orang Vinceryn yang bersembunyi di
daerah Gamoran, dan akan siaga untuk membantu kita! Maka aku menunggu waktu
sampai aku bisa menghubungi mereka. Ketiga, penjagaan Gamoran sekarang masih
terlalu ketat. Kita butuh waktu untuk mengelabui mereka! Dan..."
"Dan
yang terakhir, kau masih menunggu Irene." Blandon menatapku, tatapannya
sedikit berubah menjadi halus. "Kau tidak akan tahu keadaannya jika kau
tidak maju."
"Aku
tahu." Aku mengangguk. "Kita punya waktu setengah tahun."
"Ya,
lebih lama pun, aku bisa menunggu."
"Aku
tidak. Aku harus tahu keberadaan Irene."
"Kau
harus siap dengan kenyataan."
"Aku
tahu. Tuhan melindungiku."
"Aku
senang kau berpikir positif." Blandon menepuk punggungku dan pergi.
Memimpin pasukan-pasukan kecil, yang lolos dari serangan Gamoran. Negara jahat yang
sudah menghancurkan Vinceryn. Hanya sedikit orang yang lolos dari serangan
mereka. Yang ikut bersama diriku, hanya ada 27 orang. Aku tidak tahu harus
berbuat apa pada orang-orang ini, dan 2 tahun lalu, aku memutuskan mengajari
mereka bagaimana cara menggunakan senjata. Kami hanya memiliki sedikit pedang,
pisau, tidak ada senjata yang lain.
Aku hanya seorang
remaja. Aku memiliki 2 teman laki-laki seumuran ku, mereka ahli pedang, sama
sepertiku. Aku meminta mereka untuk mengajari orang-orang awam yang masih hidup
untuk bertarung. Dua temanku adalah Blandon dan Sarviat. Mereka adalah teman lamaku
saat aku masih hidup di Vinceryn, dan sekarang mereka menjadi teman
seperjuangan.
"Pagi Zawn!"
Sarviat menyapaku.
"Pagi, kawan! Bagaimana malam mu?" Tanyaku.
"Sudah jelas seperti biasa!" Dia tersenyum. "Semalam, aku tidak sengaja melihatmu sedang berbincang-bincang dengan Blandon! Jika aku boleh tahu, apa yang kau bicarakan?"
Aku menatapnya. "Aku tanya kau, apakah kau tidak sengaja melihat, atau kau memang mencari tahu?"
Sarviat nyengir. "Oh, kau sudah tahu. Aku memang ingin tahu." Dia tertawa.
"Pagi, kawan! Bagaimana malam mu?" Tanyaku.
"Sudah jelas seperti biasa!" Dia tersenyum. "Semalam, aku tidak sengaja melihatmu sedang berbincang-bincang dengan Blandon! Jika aku boleh tahu, apa yang kau bicarakan?"
Aku menatapnya. "Aku tanya kau, apakah kau tidak sengaja melihat, atau kau memang mencari tahu?"
Sarviat nyengir. "Oh, kau sudah tahu. Aku memang ingin tahu." Dia tertawa.
"Aku tahu
kebiasaanmu!" Aku nyengir. "Yah, aku hanya membicarakan tentang
rencanaku." Aku menatapnya.
"Kau tidak memberi tahuku?"
"Aku juga tidak memberi tahu Blandon."
"Kenapa?"
"Karena rencana ini belum sempurna."
"Kau tidak memberi tahuku?"
"Aku juga tidak memberi tahu Blandon."
"Kenapa?"
"Karena rencana ini belum sempurna."
Aku meninggalkan
Sarviat sendiri dan pergi ke hutan untuk berpikir. Aku masih mencari Irene, dan
aku bingung untuk hidup. Gamoran akan membunuh setiap warga Vinceryn. Aku tahu
itu. Saat aku muncul di tengah kota, semua akan menjadi sia-sia. Aku tidak akan
pernah tahu kebenaran tentang Irene, dan aku tidak bisa hidup lebih lama.
"Zawn!" Seseorang memanggilku. Saat aku menoleh, seorang pria lebih tua sedang berlari ke arahku.
"Ada apa?" Aku memandangnya.
"Aku menemukan sekelompok warga Vinceryn yang hilang!" Ujarnya terengah-engah. Ini mengejutkanku, apakah Irene ada disana? Apakah orang-orang itu dapat bertarung?
"Dimana mereka?!" Semangatku meledak.
"Belahan bukit lain! Aku hanya melihat beberapa orang yang aku kenali dulu di Vinceryn, setidaknya aku ingat wajah-wajah mereka! Aku belum berani untuk menyapa warga disana, seperti katamu, aku harus melapor jika melihat orang awam." Dia tersenyum, kebahagiaan terpancar dari wajahnya walaupun ia terlihat lelah.
"Oh, terimakasih, uhm.. Maaf aku lupa namamu?"
"Cladyan. Aku hanya 5 tahun di atas umurmu!"
"Oh oke, maaf aku melupakan namamu, tapi sudahlah! Tunjukan aku jalannya!" Aku berlari ke pondok dan mengambil tas selempangku.
"Zawn! Mau kemana kau?"
"Memeriksa daerah sekitar! Sarviat! Kau ikut aku! Blandon! Jaga perdesaan!" Aku berseru riang. Blandon dan Sarviat saling bertatap mata dengan bingung, kemudian Sarviat pergi menyusulku dan Blandon hanya duduk kebingungan.
"Apa rencanamu?" Tanya Sarviat.
"Diamlah! Cladyan menemukan beberapa warga kita!"
"Oh?" Sarviat baru menyadari, ada Cladyan di depannya. "Maaf Cladyan, aku tidak melihatmu."
"Oh tak apa!" Cladyan nyengir dan berlari ke arah bukit, kemudian saat sampai pada puncak, ia menunduk.
"Ada apa?" Tanya Sarviat.
"Disinilah tempat aku melihat mereka! Jika kalian ingin mengamati, amatilah dari sini!" Dia berbisik. Sarviat dan aku mengikuti langkahnya.
"Kau benar." Sarviat terkagum.
"Tunggu apa lagi?" Aku meluncur ke bawah bukit, Sarviat dan Cladyan hanya melihatku dari atas dan melongo.
"Kau curang!" Sarviat tertawa dan mengikutiku, begitu juga Cladyan. Aku meluncur dan berlari.
BRAK!
"Hei, hati-hati!" Aku menabrak seseorang.
"Oh, aku benar-benar minta maaf, aku..." Eh?
"Zawn!"
"Marry!"
Orang itu memelukku, ia adikku. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya!" Aku tertawa bersamanya. Lama-lama dia menangis dan memelukku lagi. "Ada apa?" Tanyaku heran.
"Aku pikir kau tewas, oleh orang-orang itu!" Dia menangis lebih kencang.
"Jangan bergurau. Aku ada disini sekarang." Aku tersenyum.
"Kini aku menjadi warga Gamoran dengan terpaksa!" Serunya. "Aku... aku tidak bermaksud untuk menghianati negara! Aku..."
"Tidak apa-apa.. Marry, tidak apa-apa. Aku senang kau selamat."
"Terimakasih, kak.." dia menangis lagi. Cladyan dan Sarviat akhirnya menyusulku, dan memberi salam pada Marry.
"Banyak orang yang terbunuh." Marry mengusap air matanya. "Orang yang tidak mau mengalah dan dijadikan budak oleh mereka, akan kehilangan nyawa. Semua memperebutkan harta! Bahkan yang menjadi warga mereka, telah menjadi miskin dan tidak punya apa-apa!" Serunya. Aku mengusap air matanya.
"Bisakah kau ajak kami ke pondok dan mendengar ceritamu?"
Marry terdiam sejenak.
"Aku... Aku akan bercerita di pondok... Tapi,.."
"Tapi apa, Marry?"
"Tapi kau akan mendengar kabar buruk, Zawn."
(To Be Continued)